Sabtu, 14 April 2012

Usaha Jamur Tiram Yang Makin Menjamur


Kini usaha jamur tiram makin menjamur, karena mudahnya carabudidaya jamur tiram, harga jual yang stabil serta permintaan yang terus meningkat menjadi salah satu faktor banyaknya bermunculan petani jamur tiram. Penampilannya yang putih bersih dan menarik menjadi daya tarik tersendiri. Rasanya juga sangat enak, hampir seperti daging ayam .
Cerahnya prospek usaha budidaya jamur ini ternyata menciptakanpeluang usaha bagi banyak orang. Sebutlah Rosdiyanti, disela-selakesibukannya sebagai guru SD yang cukup favorit di kecamatan Gombong kabupaten Kebumen, dia masih menyempatkan waktunya untuk membudidayakan jamur tiram ini.
Walaupun usahanya masih dalam skala kecil, namun sudah dapat memberikan tambahan penghasilan buatnya. “Budidaya jamur tiram tergantung modal, bisa dibuat kecil juga  bisa dibuat besar, tergantung skala produksinya, ” ungkapnya.
Memang benar begitulah adanya, banyak pembudidaya jamur tiram di daerah tertentu yang omsetnya bisa mencapai puluhan juta. Hanya beberapa bulan sudah bisa balik modal.
Awal mula Rosdiyanti memulai usaha budidaya jamur tiram ini disebabkan karena dia sangat suka mengkonsumsi jamur tiram tersebut. Kemudian dia melakukan survei ke salah satu pembudidaya jamur tiram di daerahnya untuk mempelajari bagaimana cara membudidayakan jamur tiram tersebut.
Tidak hanya berhenti sampai disitu, Rosdiyanti juga melakukan survei ke pembudidaya jamur tiram yang skala produksinya lebih besar. Di tempat itulah dia membeli bibit jamur. Bibit jamur yang dia beli bisa tahan lebih lama, walaupun tidak langsung digunakan.
Konsumen
Mengkonsumsi jamur tiram secara rutin dapat menghancurkan sel kanker. Jamur tiram juga memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga banyak dicari orang. Hampir semua orang menjadikan jamur tiram sebagai salah satu bahan makanan yang memiliki banyak manfaat. Jamur tiram juga sering dicari konsumen kaum vegetarian, mereka menjadikan jamur tiram sebagai pengganti daging. Disamping konsumen dari rumahan, jamur tiram juga banyak dicari para pemilik restoran maupun usaha makanan yang menggunakan jamur tiram sebagai bahan utama usaha mereka. Karena tidak semua pengusaha kuliner jamur membudidayakan jamur tiram secara langsung, keterbatasan lahan membuat mereka lebih memilih untuk mencari pemasok jamur tiram.

Selasa, 07 Juni 2011

berita tentang jamur tiram

Jamur
Selama berabad-abad, manusia di seluruh belahan bumi meyakini manfaat jamur untuk kekebalan tubuh.

"Penelitian menunjukkan bahwa jamur meningkatkan produksi dan aktivitas sel darah putih, membuatnya lebih agresif. Hal ini sangat baik bila tubuh mengalami infeksi,” kata Douglas Schar, Direktur Institute of Herbal Medicine di Washington DC, AS.

Salah satu jamur termahal, shiitake adalah yang memiliki nutrisi paling baik untuk kekebalan tubuh. Jamur maitake juga memiliki manfaat yang sama. Anda bisa mengolahnya sesuai menu favorit Anda.

“Digoreng, dipanggang, tak masalah. Anda tetap dapat merasakan manfaat jamur untuk meningkatkan kekebalan tubuh,” kata Schar.

Senin, 16 Mei 2011

JAMUR TIRAM PUTIH

JAMUR TIRAM PUTIH


Referensi teknik budidaya jamur tiram putih, pembuatan media baglog jamur tiram, pembuatan bibit jamur tiram F0, F1, F2, serta tatacara berbisnis jamur tiram dan olahannya agar memberikan keuntungan yang optimal






Pentingnya manajemen pembibitan jamur tiram putih
Wednesday, May 04, 2011 12:03 PM


Dalam posting sebelumnya sudah sering kami bahas bahwa yang sangat mempengaruhi kualitas baglog jamur tiram adalah kualitas dari bibit yang menginokulasikannya. Bibit yang berkualitas itu harus dimulai dari indukan, PDA, F1, dan F2 yang berkualitas.


PDA terpilih dengan perkembangan miselium terbaik




Namun, seringkali hal ini sedikit terlupakan bagi pebudidaya jamur tiram putih. Mengapa demikian? Karena pada umumnya pebudidaya terlalu fokus dan keasyikan dalam membuat serta memproduksi baglog jamur tiram, nah saat pekerjaan yang terkadang dikejar jadual dan pemesanan yang banyak tersebut, ketersediaan bibit F2 untuk inokulasi baglog nanti sering kelupaan.

Stok F2 harus selalu dicek, pembuatan rutin bisa lebih menjamin kualitas bibit karena dalam memproduksi baglog, kita juga memerlukan waktu

Jadinya bagaimana..? Jika kurang terjadual dengan baik, terkadang pebudidaya sudah terlanjur melakukan proses sterilisasi baglog jamur tiram, namun bibit F2 yang ada kurang atau bahkan tidak ada sama sekali..? Terus akhirnya.., senggol sana senggol sini, dan yang lebih parahnya, ada juga yang kemudian masuk ke dalam kumbung produksi, lalu memilih baglog yang miselia putihnya bagus, selanjutnya digunakan untuk pembibitan inokulasi..

Salah satu persyaratan untuk kualitas bibit F2 yang baik adalah dalam 7 hari, perkembangan miselia telah mencapai 2,5cm dengan warna putih tebal yang homogen hingga penuh





Kualitasnya bagaimana..? yaa.., jangan ditanya, dengan posisi itu jangan heran bentuk jamur, karakter panen, dan jumlahnya selanjutnya tidak sesuai target yang diharapkan..


Nah.., untuk mengatasi kasus-kasus seperti ini, manajemen pembibitan kiranya perlu sekali untuk diperhatikan secara serius..

Lalu, apa kata kunci bagi manajemen pembibitan yang baik..?

Sederhana sekali ternyata.., yaitu RUTIN dan WAKTU. Itu saja..




RUTIN

Maksud dari kata kunci ini adalah, dalam pembuatan bibit jamur tiram mulai PDA, F1, dan F2, yang dibutuhkan hanyalah ketekunan, rutinitas yang terjaga, dan kontrol kualitas yang baik. Lebih baik membuat bibit itu adalah sedikit tapi rutin, dari pada sekali tapi langsung banyak.., karena seringkali banyak (kuantitas) itu melupakan kontrol, sehingga kualitas menjadi kurang terjaga dengan baik.




WAKTU

Maksudnya adalah, baik bibit PDA, F1 maupun F2, memiliki durasi waktu pemanjangan miselia yang berbeda. Masing-masing waktu itu harus diperhatikan dengan seksama, karena itu menyangkut kualitas nantinya. Selain itu, masing-masing bibit juga memiliki waktu kadaluarsa, yang menyebabkan semua durasi itu harus tercatat dan diperhatikan dengan baik.

Selanjutnya, apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses inokulasi agar kualitas baglog tetap bisa terjaga dengan baik..? Untuk itu beberapa poin berikut bisa menjadi perhatian:




Memperhatikan jumlah bibit yang digunakan untuk inokulasi

Sebelum membahas mengenai kebutuhan bibit, dan manajemennya, mari kita review sedikit mengenai inokulasi. Ini sangat penting karena menyangkut kualitas miselia yang akan dihasilkan oleh baglog nantinya.

Dalam persyaratan yang diberikan, pemberian bibit saat inokulasi adalah sebanyak 0,8% - 1,3% dari berat media yang akan dibuat. Pada umumnya pebudidaya menggunakan plastik berukuran 18x35cm yang memiliki berat sekitar 1,35kg - 1,4kg per baglog.

Ini artinya jumlah bibit yang harus diinokulasikan ke dalam baglog adalah sejumlah:

Minimal kurang lebih 11gram per baglog

Maksimal kurang lebih 18 gram per baglog


Jumlah yang di Inokulasi ke baglog kurang lebih 11gram - 18gram

Nah, jika bibit F2 yang digunakan menggunakan media gergajian dalam botol ex saus, maka jika dirata-rata, per botolnya akan menghasilkan minimal 20 baglog, maksimal 30 baglog.

Ini perlu untuk dijelaskan, karena jangan sampai kita terlalu irit dalam menggunakan bibit F2 dalam inokulasi, karena akan berpengaruh dalam perkembangan miselia.


Inokulasi bibit F2 yang baik akan cepat menghasilkan pertumbuhan miselia pada baglog, hal ini akan tampak pada waktu 24-48 jam setelah inokulasi

Selain itu ini juga untuk lebih memahamkan bahwa tidak sama bibit yang diberikan pada baglog ukuran 1,4kg dengan baglog berukuran berat 2kg.




Memperhatikan waktu/saat inokulasi yang pas

Waktu inokulasi atau pemberian bibit pada baglog yang terbaik setelah proses sterilisasi di dalam steamer adalah pada suhu kurang lebih 38 derajat C. Waktu ini didapatkan pada kurang lebih 12 jam setelah baglog dikeluarkan dari ruang steamer.


Baglog setelah dikeluarkan dari steamer, membutuhkan waktu pendinginan sekitar 12 jam sebelum siap di inokulasi bibit F2

Yang perlu diperhatikan adalah, jangan memberikan bibit saat baglog masih terlalu panas, namun juga tidak boleh saat baglog sudah terlalu dingin. Maksimal waktunya adalah 24 jam setelah dikeluarkan dari steamer. Jika baglog terlambat diinokulasi setelah keluar dari steamer, dikhawatirkan terjadi kegagalan.




Memperhatikan usia bibit F2 yang digunakan untuk inokulasi

Dalam pengamatan kami, bibit F2 yang terbaik untuk inokulasi adalah bibit yang miseliumnya telah mencapai 100% +2-3 hari. Saat itu miselium dalam botol F2 telah tercapai puncak kematangannya.

Bibit F2 bisa dikatakan expired atau kurang bagus untuk digunakan adalah bibit F2 yang setelah mencapai 100% miselium +3pekan. Atau bibit F2 yang telah tumbuh jamurnya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan agar kita selalu mendapatkan bibit F2 dengan kualitas terbaik saat inokulasi.




Ok, setelah memperhatikan 3 hal tersebut, saatnya kita mengatur dengan benar manajemen pembibitannya. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah:


1.
Perhatikan lamanya waktu pembentukan miselia pada PDA, F1, dan F2. Ini sudah kami bahas pada posting mengenai memperhatikan durasi pembentukan miselia. Ini sangat penting, karena dari sinilah penjadualan pembibitan akan diatur waktunya.

2.
Hitung dengan benar kapasitas produksi pembuatan baglog Anda, misalnya 500 baglog per hari, 1000 baglog per hari, dan seterusnya. Dengan itu prediksikan berapakah produksi baglog per pekannya dan selanjutnya per bulan.

3.
Selanjutnya sesuaikan dengan benar kebutuhan bibit F2 kita berdasarkan hitungan produksi tadi dengan waktu durasi pemanjangan miselia pada PDA, F1, dan F2. Ini sangat penting agar kita selalu mendapatkan bibit F2 dalam kondisi yang terbaik untuk inokulasi. Tidak terlalu muda, tidak pula expired/kadaluarsa atau terlalu tua untuk inokulasi.


Setelah memperhatikan tiga poin tersebut, mari kita perhatikan lagi poin perkembangan miselia berikut:




*
Perkembangan miselia PDA pada botol UC1000 adalah: miselia mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 10 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 1 bulan kemudian.

*
Perkembangan miselia F1 media jagung pada botol ex saus akan mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 20 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 3 pekan berikutnya.

*

Perkembangan miselia F2 media jagung pada botol ex saus akan mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 20 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 3 pekan berikutnya.

*

Perkembangan miselia F2 media gergajian pada botol ex saus akan mencapai 100% dalam waktu kurang lebih 30 hari, dan akan kadaluarsa dalam waktu 2 pekan berikutnya.

*



Memperhatikan durasi pemanjangan miselia bibit media jagung


Memperhatikan durasi pemanjangan miselia bibit media gergajian


Nah, setelah memperhatikan perkembangan miselia tersebut, dapat kita atur dengan baik bagaimana manajemen pembuatan bibit mulai PDA, F1, dan F2 agar selalu didapatkan kualitas F2 yang terbaik pada saat digunakan untuk inokulasi baglog jamur tiram putih nantinya.




Untuk itulah diperlukan penjadualan kerja dalam pembuatan bibit, dan setiap bibit juga perlu diberi label dengan isi jenis, generasi, media yang digunakan, dan tanggal inokulasi. Hal ini sangat penting agar kita bisa menentukan saat yang tepat dalam penggunaan bibit jamur tiram putih nantinya.



Pemberian label pada bibit F1 dan F2 penting dalam manajemen pembibitan

Dalam pengalaman kami yang hanya mengerjakan kurang lebih 10.000 baglog tiap bulannya, pembuatan PDA cukup dilakukan 1-2 kali per bulannya. Pembuatan bibit F1 dibuat tiap pekan, dan bibit F2 dibuat sepekan 2kali. Jumlah disesuaikan kapasitas produksi. Tapi seperti keterangan sebelumnya, yang penting rutin walau sedikit, itu justru lebih baik hasilnya..
Sinergi luar biasa budidaya jamur dengan budidaya cacing lumbricus rubellus
Saturday, April 30, 2011 1:37 PM
Tulisan kali ini akan membahas sedikit lebih mendalam tentang bagaimana sinergi antara limbah baglog dengan budidaya cacing lumbricus rubellus, ini untuk melanjutkan posting sebelumnya mengenai potensi limbah buangan baglog jamur tiram putih.




Saya bersama Mas Abdul Azis Adam pemilik dan pengembangan budidaya cacing lumbricus rubellus, budidaya belut, pengembangan pupuk organik juga

Memang sudah saatnya pemanfaatan limbah baglog jamur tiram putih ini dicarikan solusi yang lebih berdaya guna agar selanjutnya bisa merupakan solusi yang lebih kompeherensif. Dan...... menguntungkan tentunya.




Baglog jamur tiram putih yang akan dimanfaatkan untuk budidaya cacing

Alhamdulillah kami dipertemukan kembali oleh Allah SWT dengan sahabat kami di masa SMA dulu, dan ini merupakan pertemuan yang tidak disangka dan akhirnya bisa berlanjut ke sinergi yang sangat serius..
Saat ini kami sedang mengembangkan sebuah potensi pemanfaatan limbah baglog jamur tiram putih untuk selanjutnya membuat sebuah pupuk organik dari Kascing/kotoran cacing dan campuran kascing dengan berbagai bahan organik lainnya.

Pupuk organik ini nantinya sangat berkualitas tinggi terutama untuk tanaman seperti bunga-buah dan sebagainya. Kebetulan sekali di Kota Batu dan sekitarnya adalah salah satu penghasil bunga yang sangat besar.., jadi pemasaran pupuknya tidak terlalu jauh juga..




Cacing lumbricus rubellus diantara gergajian dari baglog buangan

Ok.., sekarang akan kami cerita-cerita sedikit tentang budidaya cacing lubricus ini

Apa sih, manfaat dan kegunaan cacing lumbricus, dan nantinya dipasarkan ke mana saja..? Berikut beberapa manfaat dari cacing lumbricus:

*
Karena mengandung protein yang tinggi, cacing paling umum digunakan sebagai bahan makan / pakan hewan ternak atau hewan budidaya seperti jenis burung/unggas, perikanan/ikan, kodok, udang dan sebagainya.

*
Cacing juga dapat diolah sebagai bahan baku pembuatan kosmetik

*
Cacing lumbricus ini sekarang juga sudah dikembangkan sebagai salah satu bahan obat karena dapat menurunkan tekanan darah. Fungsi paling umumnya adalah dapat menurunkan penyakit demam/panas dan meredakan penyakit tipus. Untuk ini biasanya cacing dikeringkan lalu di ekstrak dalam bentuk kapsul.


Kemudian, bagaimana cara membudidayakan cacing ini? Untuk menjawab ini, kita harus memahami dulu bagaimana kondisi yang terbaik untuk perkembangan cacing. yaitu:


*
Tanah sebagai media rumahnya harus mengandung banyak bahan organik, ini nantinya yang akan kita ganti dengan media gergajian dari baglog buangan. cacing menyukai bahan yang mudah membusuk karena mudah dicerna oleh tubuhnya.

*
Cacing menyukai kondisi dengan ph sedikit asam dan netral yang kurang lebih 6-7. Pada kondisi ini bakteri dalam tubuh cacing dapat bekerja optimal untuk melakukan pembusukan dan fermentasi. Kondisi ini harus benar-benar diperhatikan, karena jika pada gergajian terjadi fermentasi berlebihan dan panas, maka justru dapat membunuh cacing itu.

*
Kelembaban optimal di kisaran 30%

*
Suhu yang disukai oleh cacing karena dapat memicu pertumbuhan cacing dan perkembangbiakannya adalah sekitar 15-25 derajat C, untuk ini tempat budidaya cacing sebaiknya terlindung dari sinar matahari langsung. Kalau bisa dibuatkan semacam rumah atau naungan sederhana sehingga terjaga suhu dan kelembabannya.


Memang menurut rekan kami ini, untuk berhasil dalam melakukan budidaya cacing, kita harus terlebih dahulu memahami kondisi yang disenangi oleh cacing tersebut. Pada awalnya budidaya cacing dan pada umumnya diletakkan pada kotak-kotak dalam jumlah banyak, selanjutnya cacing dibiakkan di tempat tersebut.

Budidaya cacing pada kotak-kotak kayu


Gergajian dari baglog buangan sebelum dimakan cacing


Sebaiknya memang sebelum membudidayakan dalam jumlah banyak, dicobakan dahulu.. caranya:

Bibit cacing yang ada dicobakan dahulu di media yang ada dalam kotak-kotak, perhatikan apakah cacing tersebut langsung masuk ke dalam media atau berkeliaran di atasnya, jika masuk ke dalam, perhatikan setiap 3 jam, apakah cacing tersebut keluar atau tidak, jika dalam 12 jam tidak keluar, berarti bisa disimpulkan media tersebut cocok, dan cacing betah di dalamnya..




Namun sahabat kami ini memiliki tatacara yang berbeda untuk mengembangbiakkan cacing lumbricus, dengan berbagai percobaan sebelumnya, beliau membuat semacam kotak dari pasangan bata sederhana. Ukurannya kurang lebih 100x200x50cm. Bagian bawahnya diberi sedikit plesteran tapi yang bisa menyerapkan air. Selanjutnya cacing dibudidayakan di sini..




Mencoba budidaya cacing pada jumlah sedikit dulu di kotak bata, tampak di atasnya diberi makanan berupa ampas tahu selain media gergajian dari baglog buangan

Budidaya cacing lumbricus menggunakan media baglog afkir.

Pertama-tama baglog afkir tersebut dikumpulkan dan dibuang/dipisahkan dari plastiknya

Haluskan dengan menggunakan tangan saja, tidak perlu sampai terlalu halus banget/misal menggunakan mesin.


Baglog buangan dipisahkan dulu dengan plastiknya

Jika terlalu kering, siram sedikit saja agar kelembaban dan kadar airnya bertambah. Tetapi pada umumnya baglog buangan tersebut sudah memiliki kadar air yang optimal sebagai media/makanan cacing.



Selanjutnya setelah gergajian siap sebagai media, dapat difungsikan sebagai pakan/makanan cacing, dan juga dapat difungsikan sebagai media/rumahnya.




Nah, sekarang apa sebenarnya fungsi grajen tersebut? Untuk itu perlu sedikit dijelaskan masalah makanan/pakan cacing. Setiap harinya, cacing dapat menyerap makanan sebanyak berat tubuhnya, artinya, sebaiknya kita memberikan makanan sejumlah berat cacing yang kita budidayakan. Makanan yang paling umum diberikan adalah ampas tahu dengan perbandingan 1:1 dengan berat cacing tadi.




Lalu bagaimana dengan baglog buangan? Disinilah hebatnya gergajian hasil baglog buangan tersebut. Selain berfungsi sebagai media, kandungan gergajian yang juga mengandung nutrisi seperti bekatul dan sebagainya itu juga berfungsi sebagai makanan. Jadi, dengan memberikan gergajian dari baglog buangan, kita tidak perlu lagi setiap hari mencari ampas tahu untuk pakannya, dan pemberiannya pun bisa jadi hanya sedikit saja..




Sebagai ilustrasi pengaturan layer/lapisan pada budidaya cacing menggunakan baglog buangan, adalah sebagai berikut:




Pada gambar tersebut nampak bahwa, pemberian grajen sebagai media cacing lumbricus sebaiknya sebanding dengan berat cacing yang ada.., pada awalnya dibagi menjadi 3 layer, selanjutnya dalam waktu kurang lebih 7 hari, akan terbentuk 2 layer saja yaitu cacing lumbricus dan kascing/kotoran cacing..



Nah, dengan gambaran yang ada tersebut, bisa disimpulkan, apabila kita ingin memproduksi kascing dalam waktu singkat, bisa menggunakan gergajian. Dalam waktu 7 hari, kascing sudah bisa di "panen" di bagian bawah layer yang selanjutnya bisa dioptimalkan sebagai pupuk atau campuran pupuk organik.




Kalau dihitung dari segi produksi, bagaimana menghasilkan cacing lumbricus dan kascing tersebut..?

6 Kotak bata tempat budidaya cacing lumbricus

Menurut pengalaman rekan kami ini, dia membuat sekitar 6 kotak dari pasangan bata dengan ukuran kurang lebih 120x200x50cm tadi. Nah, setiap kotak, InsyaALLAH bisa menghasilkan kurang lebih 80-90kg cacing lumbricus rubellus..


Di ambil di permukaannya saja sudah tampak banyak sekali cacing lumbricus

Hitungannya adalah sebagai berikut:

Bibit cacing yang akan dibiakkan per kotak tersebut diisi sekitar 20-30kg.

Gergajian dari baglog buangan diisikan ke kotak sebanyak kurang lebih mencapai 100kg.

Selain gergajian, masih dibantu dengan pakan dari ampas tahu..

Setiap harinya cacing dapat makan sebanyak berat tubuhnya, lalu selanjutnya menghasilkan kascing tergantung daya serap makan ke tubuh cacing tersebut.

Jika menggunakan pakan ampas tahu, kascing yang dihasilkan kira-kira sebanyak 40% dari berat, sekitar 60% terserap untuk membesarkan cacing.

Sedangkan jika menggunakan gergajian baglog, maka daya serapnya sekitar 40% dan akan menghasilkan sekitar 60% kascing dari beratnya..

Luar biasa bukan..?




Nah bagaimana panennya..?

Cacing dapat dipanen dalam waktu kurang lebih 30 hari.., dari waktu tersebut bibit cacing yang ada tadi InsyaALLAH sudah mencapai kurang lebih 80kg.. Dan kascing yang ada sekitar 50kg an...

Jadi yang dibudidaya rekan kami di 6 kotak itu menghasilkan sekitar 500kg cacing lumbricus rubellus dan sekitar 300kg kascing.. Subhanallah..




Saat ini saja, rekan kami meminta pasokan baglog buangan sekitar 1 ton per pekan yang artinya dibutuhkan sekitar 4 ton per bulannya. Ini masih permulaan, karena target ke depannya membutuhkan hampir 3 kali lipat yaitu sekitar 12 ton baglog buangan per bulan..



Ini masih jauh dari target, karena kebutuhan per bulannya kira-kira mencapai 80 ton. Bahkan jika ingin untuk pasokan luar pulau hingga kalimantan, kebutuhan mencapai 300 ton per bulan.. Subahanallah..




terus bagaimana solusinya..? Ini menjadi tugas saya di tim untuk mencari baglog buangan di seluruh Jawa Timur..






Membuat kripik jamur yang renyah
Thursday, April 28, 2011 4:35 AM
Kripik jamur tiram


Ada perbedaan yang cukup mendasar dalam membuat kripik jamur dan menggoreng jamur biasa. Dan seringkali ini kurang dipahami sehingga timbulnya pertanyaan..: kog gorengan jamur kami setelah dingin lembek yaa..???



Dalam teknik menggoreng jamur untuk membuat kripik sangat berbeda dengan menggoreng jamur biasa untuk disajikan hangat. Kalau menggoreng jamur biasa dan disajikan hangat-hangat, teknik menggorengnya sederhana dan sama saja dengan menggoreng kentang goreng, ayam goreng, tempe goreng. Yaitu jamur diberi tepung krispi dan langsung saja digoreng, setelah warnanya coklat dan belum gosong, tiriskan dan sajikan hangat-hangat.., nah.. jamur goreng krispi ini memang enak, tetapi ketika dingin, sama seperti kentang goreng yang dibeli di waralaba seperti kentucky dsb, jamur goreng krispi itu akan lembek..




Nah, bagaimana jika kita ingin membuat kripik jamur tiram..???

Untuk membuat kripik jamur tiram, teknik menggoreng yang digunakan sedikit berbeda, jamur yang digunakan untuk membuat kripik pun sebaiknya memiliki ciri sebagai berikut:


Jamur hendaknya tidak memiliki kadar air yang berlebihan, tebal, tidak dari simpanan di lemari es, dan juga sebaiknya cukup segar (bukan jamur kemaren misalnya..)

Mengapa disyaratkan demikian..? Agar hasil gorengan lebih baik dan juga tidak cepat gosong...

Jamur digoreng dengan minyak panas, lalu dikecilkan
apinya dengan apinya dan ditunggu hingga garing


Hasil gorengan yang sudah garing luar dan dalamnya



Tiriskan sejenak sebelum dilakukan proses spinner


Bagaimana jika memang kondisi jamur terlalu basah.., jamur sortiran, jamur yang sisa (misalnya).. Hal ini bisa diatasi dengan mencucinya terlebih dahulu, atau menyiramnya dengan air panas.. lalu untuk mengurangi kadar airnya, jamur tersebut dikeringkan dengan proses spinner..




Selanjutnya jamur yang telah disuir-suir (disobek sedikit) tersebut, dicampur dengan campuran tepung bumbu sehingga terbalut merata.., lalu digoreng seperti biasa..




Pada saat jamur masuk di pengorengan pertama kali, pastikan minyak dalam keadaan panas, setelah kurang lebih 5-10 menit, kecilkan nyala api menjadi api sedang, dan terus digoreng hingga jamur garing benar luar dan bagian dalamnya.. Hal ini perlu untuk dipastikan agar pembuatan kripik bisa jadi sempurna, jangan sampai bagian dalam masih basah atau belum garing, karena inilah yang menyebabkan hasil gorengan akan lembek setelah dinginnya.

Kripik jamur sebelum dispinner dan masih mengandung minyak goreng


Proses spinner sedang berlangsung


Hasil kripik jamur setelah proses spinner

Nah, setelah kripik jamur matang, tentunya masih mengandung banyak minyak hasil gorengan, bagaimana menghilangkan minyak tersebut..? Disinilah proses spinner itu digunakan.. dan hasilnya bisa dilihat, kripik jamur sudah hilang kandungan minyaknya dan siap dipasarkan..

Kripik jamur yang tidak mengandung minyak ini lebih sehat dan tentunya tahan lama..
Kenapa tidak menggunakan vacuum frying..?

vacuum frying kapasitas 3kg


Di sini perlu sedikit dijelaskan apa itu vacuum friying. Alat ini sebenarnya sungguh luar biasa, vacuum frying dapat menggoreng produk dengan sistem hampa, hasilnya..? Alat ini bisa menggoreng dengan suhu rendah. Jadi jika minyak goreng bersuhu lebih dari 100 derajat C untuk menggoreng, dengan alat ini, bisa menggoreng dengan suhu di kisaran 50 derajat C.


vacuum frying kapasitas 1,5kg

Dengan menggunakan alat ini akhirnya buah-buahan dapat dibuat kripik.. tetapi..? tanpa campuran apapun. Dalam artian, buah itu murni dan langsung dibuat kripik, tidak dicampur tepung dan sebagainya..

Misal Kripik apel, apelnya di goreng langsung dan menjadi kripik apel

Begitu pula dengan salak, mangga, nangka, wortel, pepaya, dan sebagainya..




Nah.. untuk kripik jamur, tidak perlu menggunakan vacuum frying yang mahal, cukup digoreng biasa sudah bisa, namun dalam prosesnya memerlukan alat spinner yang berfungsi ganda, yaitu pertama mengurangi kadar air pada jamur, yang kedua menghilangkan/meniriskan minyak goreng yang terdapat dalam gorengan kripik jamur tadi..




Nah.. setelah jadi tinggal pengemasan.. and.. its all about packaging..!!



Pengemasan kripik jamur ada yang menggunakan plastik, ada yang menggunakan aluminium foil.., untuk yang menggunakan plastik, sebaiknya gunakanlah plastik yang tebal agar keawetan terjaga.., tetapi bisa juga menggunakan plastik dengan ketebalan sedang jika memang segmentasi pasar yang dituju adalah di sekolahan, agar biaya produksi tidak terlalu tinggi..


Kripik jamur kemasan plastik

Tetapi yang terbaik memang menggunakan aluminium foil.. mengapa..? karena kerenyahan rasa dan keawetan produk dapat terjaga dengan lebih baik..


Kripik jamur kemasan aluminium foil

Aluminium foil memang banyak digunakan untuk produk makanan kecil..., kalau tidak percaya, jalan-jalanlah ke supermarket, semua produk makanan kecil kebanyakan menggunakan aluminium foil..

Nah.. tinggal kita mau jualan ke mana..? Tentukan segemntasi pasarnya yang selanjutnya bisa "bermain" di wilayah itu..
Efisiensi Penggunaan Boiler
Thursday, April 28, 2011 4:20 AM
Boiler, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya adalah bejana tertutup dimana pembakaran dialirkan ke air sampai terbentuk air panas atau steam.

Kami seringkali ditanya, kenapa menggunakan boiler, bagaimana boiler itu bekerja, dan mengapa kog boiler yang ada di foto kami itu efektif untuk sekitar 1000 baglog.., terus banyak juga yang bertanya, bahwa mereka sudah membuat sesuai dengan skema yang ada, tapi mengapa kog tidak menghasilkan steam yang diharapkan..?

Skema boiler sederhana

Posting kali ini semoga bisa sedikit menjelaskan apa itu boiler lebih detilnya dan bagaimana mengoperasikannya secara efektif sehingga dihasilkan steam/uap panas yang cukup untuk mensterilkan baglog jamur tiram putih.




Tekanan uap yang dihasilkan boiler

Dalam posting tentang boiler sebelumnya kami jelaskan bahwa boiler sederhana yang sering digunakan dalam budidaya jamur tiram putih ini biasanya menggunakan water tube boiler dan fire tube boiler. Umumnya pula boiler dibuat menggunakan tong/drum bekas..

boiler sederhana dari tong/drum bekas

Ini dilakukan karena memang agar bisa murah dalam membuatnya. Kalau kami sendiri menggunakan plat baja dengan tebal minimal 3mm.


Nah, dalam pengoperasian boiler, yang perlu benar diperhatikan adalah evaluasi kinerja boiler itu sendiri.




Kehilangan panas yang menurunkan kinerja boiler

Parameter kinerja boiler, seperti efisiensi dan rasio penguapan, berkurang terhadap waktu disebabkan buruknya pembakaran, kotornya permukaan penukar panas dan buruknya operasi dan pemeliharaan. Bahkan untuk boiler yang baru sekalipun, alasan seperti buruknya kualitas bahan bakar dan kualitas air dapat mengakibatkan buruknya kinerja boiler.




Secara umum ada beberapa hal yang menyebabkan kehilangan energi dalam pembangkitan uap panas atau steam dalam pengoperasian boiler. yang antara lain:




*
Kehilangan panas karena gas buang kering
*
Kehilangan panas karena steam dalam gas buang (akibat kebocoran)
*
Kehilangan panas karena kandungan air dalam bahan bakar
*
Kehilangan panas karena kandungan air dalam udara
*
Kehilangan panas karena bahan yang tidak terbakar dalam residu
*
Kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan yang tidak terhitung


Nah.. apa maksudnya...????

Inti dari kata-kata kehilangan panas-kehilangan panas itu adalah pemanasan dari api untuk mendidihkan air di dalam boiler harus benar-benar termanfaatkan secara sempurna. Jangan ada atau jangan terlalu banyak panas api yang keluar yang mengakibatkan efisiensi pemanasan boiler menjadi berkurang.




Cara mengatasi kehilangan panas untuk meningkatkan efektifitas kerja boiler

Gimana caranya..???




*
Untuk bagian pembakaran, sebaiknya dibuatkan semacam burner untuk mengisolasi api secara lebih baik, burner itu bisa merupakan paket yang terintegrasi dengan boiler, bisa juga dibuatkan terpisah yang biasanya berupa pasangan bata untuk mengisolasi/lebih mengarahkan api ke dalam boiler.
*

*
boiler dengan burner terintegrasi bagian bawah di dalamnya terdapat lapisan cor beton untuk menahan panas


*
Lakukan perawatan boiler secara berkala dengan selalu membersihkan pipa-pipa pemanasan dan pipa cerobong agar panas api bisa terlewati secara sempurna.
*
Air yang digunakan pun harus baik, bersih, tidak keruh, ini untuk menghindari terjadinya endapan dalam boiler yang mengakibatkan umur pemakaian boiler itu akan lebih singkat. Jika endapan terjadi di dalam boiler, otomatis pemanasan yang diberikan akan semakin lama..

*
Periksa dengan teliti jika terjadi kebocoran, karena untuk sistem fire tube boiler, kebocoran sedikit saja, maka pipa pemanas akan langsung tidak dapat berfungsi sehingga steam yang dihasilkan akan kecil.
Pembuatan boiler harus teliti karena terdapat banyak jaringan pipa yang apabila terjadi kebocoran akan mengurangi efektifitas kerja boiler


*
Cek dan periksa pula kontinuitas api, karena jika menggunakan bahan bakar gas LPG, seringkali terjadi penurunan tekanan akibat terbentuknya es pada tabung gas LPG dikarenakan gas yang dialirkan dengan tekanan secara kontinu...


Dengan apa yang telah dijelaskan tersebut dapat disimpulkan, boiler yang ada akan menghasilkan steam/uap panas bertekanan baik untuk mensterilkan baglog jamur tiram putih di dalam steamer jika panas api dapat dimanfaatkan secara efektif..




Untuk standard operasinya adalah sebagai berikut:


*
Jika menggunakan kayu bakar, sebaiknya dibuatkan semacam tungku untuk melokalisir api, selanjutnya api yang dihasilkan oleh kayu bakar sebaiknya ditiup dengan angin menggunakan kipas angin atau blower, sehingga pemanasan dapat berjalan dengan cepat.. otomatis panas steam yang terjadi juga bisa cepat.
o Contoh tungku dari pasangan bata yang dibuat di bawah boiler agar pemanasan api bisa lebih sempurna



*
Jika menggunakan gas LPG, sebaiknya menggunakan kompor gas high pressure dan menggunakan burner. Regulator yang digunakan juga harus menggunakan regulator high pressure pula.


Kompor gas high pressure, panas apinya sebaiknya juga diisolasi dengan memberikan tutup di samping boiler agar pemanasan bisa lebih termanfaatkan

Boiler dengan kapasitas berapa liter efektif untuk memanaskan baglog sejumlah berapa dan pada steamer berkapasitas berapa..??

Pertanyaan seperti ini juga seringkali muncul, Nah.. untuk menjawabnya sekarang mari kita bahas sejauh mana efektifitas volume boiler terhadap pemanasan steam pada steamer/autoclav.. atau berapa volume boiler yang diperlukan untuk meng oven/steam baglog sejumlah tertentu pada steamer..?




Boiler sederhana yang dibuat umumnya terbuat dari tong, untuk boiler yang kami rancang tersebut menggunakan plat baja tebal 3mm dengan ukuran diameter rata-rata 60cm tinggi 110cm, jika dihitung, volume boiler total adalah sekitar kurang lebih 300 liter. Rasio air dan udara pada boiler biasanya adalah 1:3, jadi pada boiler tersebut menggunakan 100 liter air. Hal ini masih bersifat optional, jika pemanasan api bisa lebih banyak (menggunakan kayu bakar yang diblower misalnya), maka air yang dipakai boleh hingga 200liter.

boiler rancangan kami dengan kapasitas 300liter

Nah, menurut pengalaman kami, boiler ini efektif memanaskan steamer berisi baglog dengan volume maksimal 4m3 atau berisi kurang lebih 900baglog-1000baglog jamur tiram putih dengan ukuran plastik 18x35cm.




Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melakukan sterilisasi..??

Untuk waktu yang diperlukan untuk baglog dalam steamer bisa mencapai 100 derajat C sangat tergantung panas api. Jika pemanasan baik/kontinu, maka uap panas/steam yang dihasilkan boiler dapat bertekanan tinggi, karenanya baglog dapat lebih cepat mencapai suhu 100 derajat C.


Dalam pengalaman kami, rata-rata baglog sudah bisa mencapai suhu 100 derajat C dalam waktu sekitar 6-8jam. Untuk yang menggunakan kayu bakar yang diblower dan diberi tungku, suhu bisa mencapai 100 derajat dalam 5jam. Untuk kompor gas high pressure, suhu mencapai 100 derajat dalam 7-8jam.

Pada saat trial, boiler ini mampu mencapai tekanan 1Bar dalam waktu kurang lebih 45 menit dari saat menyalakan kompor high pressure

Ini pun sangat tergantung kualitas steamernya. Steamer yang baik adalah yang mampu menahan uap panas/steam secara baik dan sempurna. Jika pada pintu terdapat banyak kebocoran, otomatis pula pemanasan yang terjadi bisa lebih lama..




Ok, mari kita analisa air yang diperlukan dan uap panas yang dihasilkan untuk memanaskan baglog tersebut. Ingat, hitungan ini bersifat empiris dan akal-akalan sederhana saja, bukan hitungan teknis yang benar, karena teknik yang digunakan adalah teknik pendekatan dengan teknologi tepat guna saja..


Jika menggunakan air standar 100liter dalam memanaskan 4m3 steamer, maka biasanya boiler harus diisi ulang setiap kurang lebih 2 jam. Air ini diisi ketika level air sudah berkurang hingga tinggal 30%, jika kurang dari 2 jam sudah harus diisi, artinya pemanasan api baik dan uap yang dihasilkan pun lebih banyak sebaliknya jika pengisian air lebih dari 2 jam, artinya pemanasan api kurang dan uap panas yang dihasilkan pun kurang pula..


Total air yang diperlukan dalam pemanasan steamer hingga baglog mencapai 100 derajat C kurang lebih mencapai 500 liter-600 liter.. Artinya, air sejumlah tersebut diubah menjadi steam/uap panas bertekanan yang dimasukkan ke dalam steamer berukuran kurang lebih maksimal 4m3.



Nah, bagaimana jika kurang dari itu, otomatis, pemanasan bisa lebih cepat, karena waktu yang diperlukan pun lebih singkat..


Bagaimana pula jika steamer berukuran lebih besar..?

Katakan saja misalnya kita ingin membangun steamer dengan kapasitas 2000 baglog, maka biasanya dibuat steamer dengan ukuran bersih dalam 2 x 2 x 1,8m3 atau 2,2 x 2,2 x 1,6m3. (Ingat, steamer jangan dibuat tinggi, tapi melebar, jadi perbandingan pada tinggi harus lebih rendah).., untuk memanaskan baglog jamur tiram pada steamer dengan ukuran tersebut, dibutuhkan 1000liter - 1200liter air yang diubah menjadi uap panas/steam.., nah untuk itu, yang bisa dilakukan adalah menggunakan dobel boiler atau boiler ganda. Karena jika menggunakan satu unit boiler saja, diperlukan waktu yang lebih lama dan seringkali terjadi loss steam.. Seringkali pula kontinuitas dari pemanasan api berkurang karena kebanyakan pebudidaya menggunakan tenaga manusia, sehingga untuk menunggu pemanasan api selama lebih dari 10 jam tentu faktor keletihan, jenuh dan sebagainya bisa berpengaruh dalam kontinuitas panas api..




Konsumsi Bahan Bakar

Yang sering menjadi pertanyaan pula, berapa banyak gas LPG yang diperlukan dalam proses sterilisasi ini..? Standardnya, jika dioperasikan dengan regulator dan kompor gas high pressure, satu tabung gas LPG ukuran 12kg akan habis dalam 6-7jam. Jadi kuncinya bagaimana menghasilkan api secara kontinu dan baik dalam 6-6-7jam tersebut agar gas yang diperlukan pun tidak terbuang percuma.

Dan bagaimana membuat steamer sesempurna mungkin dalam menyimpan panas, agar konsumsi bahan bakar yang digunakan pun bisa lebih ekonomis.




Harapan kami, posting ini bisa sedikit memberikan gambaran mengenai, mengapa kog boiler yang sudah dibuat kog tidak efektif dalam memanaskan steamer. Hal ini bisa disebabkan banyak hal, bisa jadi boiler yang dibuat menggunakan bahan bekas yang sudah banyak korosi/karat, sehingga terbentuk endapan, atau air steam yang terbentuk pun tidak sempurna karena airnya juga kurang bersih. Bisa jadi pula steamer yang dibuat kurang rapat, banyak terjadi kebocoran, sehingga pemanasan tidak efektif, dan banyak kasus lainnya yang kami sendiri tidak bisa melihat langsung dan memberikan sedikit advice..


Potensi Pemanfaatan Limbah Baglog Jamur Tiram
Friday, April 22, 2011 10:43 PM
"...Robbanaa maa kholaqta haadzaa baatilaa Subhaanaka faqinaa adzaa bannaar"
Potongan akhir Al Quran Surat Ali Imran ayat 191 itu masih terngiang benar dalam benak kami, sungguh menakjubkan dan sungguh benar.. Arti bebas dari ayat tersebut adalah "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.."


Mengapa kami termotivasi dan terkagum dengan potongan ayat tersebut..? Itu karena beberapa cerita pengalaman kami berikut ini..




Dalam budidaya jamur tiram putih, kita akan selalu dihadapkan dengan masalah apabila akhir musim, baglog yang sudah habis masa produksinya akan dibuang atau dimanfaatkan sebagai apa..?

Selama ini jika ada yang mau mengambil untuk dimanfaatkan sebagai pupuk (misalnya) kami justru akan senang, karena itu berarti kami tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membuang baglog.


Buangan baglog yang akan dimanfaatkan sebagai media cacing

Jika tidak ada yang mengambil, maka baglog afkir tersebut akan kami buang.., nah.., masalahnya beberapa kali kami justru ditolak oleh pihak TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah tanpa menyebutkan alasan yang jelas..., pada saat itu sudah dijelaskan bahwa ini bukan sampah, karena sangat organik, bahkan bisa membantu menguraikan sampah organik di TPA, tapi tetap saja tidak boleh.. (ya mungkin kurang informasi saja..)


Tetapi Alhamdulillah saat itu kami ditelpon oleh teman yang butuh baglog sisa tersebut untuk dimanfaatkan sebagai media budidaya cacing lumbricus.. Tanpa pikir panjang kami pun berangkat menuju tempat rekan kami tersebut.




Tempat budidaya cacing lumbricus rubellus

Budidaya cacing lumbricus rubellus ini dikembangkan untuk berbagai keperluan. Kandungan protein yang tinggi membuat cacing tanah cocok untuk menggemburkan tanah. Selain itu, cacing juga dapat dijadikan bahan pembuatan obat, kosmetik, pelet ikan, dan lain sebagainya. Untuk harganya juga sangat tinggi mencapai Rp. 50.000 /kg.

Cacing lumbricus rubellus



Bagaimana caranya..?



Menurut rekan kami, kandungan gergajian dan bahan-bahan dalam baglog afkir tersebut sangat bagus sebagai media (rumah cacing) jadi bisa dianggap sebagai pengganti tanah...

Caranya pun sangat sederhana, hanya dengan membuang plastikbaglognya lalu dikumpulkan di wadah tertentu yang dibiarkan terlebih dahulu, selanjutnya bibit cacing langsung ditaruh di dalamnya..




Media gergajian hasil buangan baglog sebelum dimasukkan bibit cacing

Pertumbuhan cacing lumbricus rubellus ini juga bisa lebih baik dan cepat gemuk jika ditaruh pada media baglog afkiran ini.. Namun yang membuat kami kembali bertasbih adalah, ini masih belum selesai juga nilai manfaatnya.., selain cacingnya memiliki nilai ekonomis, kotoran cacing/kascing ternyata juga memiliki nilai jual..


Tampak cacing lumbricus rubellus dan kascing yang dihasilkan merubah baglog buangan menjadi tanah berkualitas

Setelah diteliti di Universitas Brawijaya, kotoran cacing/kascing ini ternyata memiliki zat organik yang memiliki unsur hara seperti auxin, sitokinin, giberelin, dan zat perangsang tumbuh untuk tanaman..





Kascing/kotoran cacing yang dibungkus dan siap dijual

Fungsi lain yang juga tidak kalah menakjubkan adalah, baglog buangan tersebut jika dipadukan dengan cacing merupakan tim yang hebat dalam menguraikan sampah organik secara alamiah.. Maksudnya adalah, jika kita memiliki sampah organik seperti hasil sampah limbah rumah tangga, sisa makanan, sayuran, dsb, asal tidak tercampur sampah non organik, jika sampah tersebut dicampur dengan sisa baglog dan cacing, maka hanya dalam tempo dua pekan, sampah tersebut akan dimakan habis oleh cacing menjadi kascing yang sangat subur...


Jadi, sungguh luar biasa.., baglog buangan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai:


*
Media pertumbuhan cacing lumbricus rubellus yang memiliki nilai jual tinggi
*
Lalu juga bisa sebagai salah satu media untuk mengolah/menguraikan sampah organik menjadi tanah dalam waktu yang singkat
*
Kotoran cacing/kascing yang dihasilkan juga memiliki nilai jual


Dengan potensi yang ada tersebut, memang sudah perlu segera diwacanakan untuk mengorganisir lebih rapi lagi dan mendata petani jamur yang ada, lalu baglog dari petani yang sudah waktunya dibuang tersebut apabila memang tidak dimanfaatkan, bisa dialihkan untuk proyek ini..

Dan akhirnya.. terngiang lagi ayat Surat Ali Imron ke- 191 tadi..
Plus minus menggunakan media jagung atau gergajian pada bibit F2 jamur tiram putih
Wednesday, January 12, 2011 5:31 AM
Dalam membuat bibit F2, media yang paling banyak digunakan adalah media biji-bijian jagung, gabah, atau media campuran gergajian. Masing-masing media ini memiliki keunggulan dan kekurangan. Namun pada dasarnya semua media tersebut baik digunakan asalkan kualitasnya tetap diperhatikan.

Baglog yang diinokulasi F2 media gergajian hari ke-3

Baglog yang diinokulasi F2 media jagung

Bibit F2 dengan media jagung

Untuk membuat bibit F2 dengan media jagung, proses pembuatannya sama dengan membuat F1, hanya nantinya bibit yang diinokulasikan adalah bibit F1.Langkahnya adalah sebagai berikut:


1. Pilih jagung dengan kualitas baik, baru, mulus tidak ada lubang-lubang bekas ulat.
2. Cuci jagung dengan menggunakan air hingga bersih, pisahkan dengan kotoran.
3. Rendam jagung selama 1 malam atau 2 malam.
4. Cuci kembali jagung hasil rendaman tersebut
5. Rebus di air mendidih hingga agak lunak (jangan terlalu lunak)
6. Tiriskan pada tempayan bambu selama kurang lebih 20 menit hingga kadar airnya berkurang
7. Masukkan ke dalam botol dan tutup dengan plastik tebal
8. Sterilisasikan di autoclave selama kurang lebih 30 menit pada tekanan 2BAR.
9. Keluarkan dan tunggu hingga suhu agak dingin sekitar 38 derajat C
10. Lalu inokulasikan bibit jagung F1





Keunggulan bibit F2 jagung adalah:


* Perkembangan miselium pada bibit F2 lebih cepat, sekitar 15 hari dari inokulasi sudah dapat dipergunakan. Berikut ini adalah foto perkembangan miselium pada bibit F2 media jagung hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke- 8. tampak pada hari ke-8 sudah mencapai 70%.
* Kualitas bibit lebih baik karena menggunakan media murni (jagung).
* Reaksi perkembangan miselium pada baglog jamur tiram putih lebih cepat dan kuat




Kekurangan bibit F2 media jagung adalah:


* Pembuatannya relatif lebih sulit (rentan terhadap kontaminasi)
* Pemilihan jenis jagung dengan kualitas baik terkadang tidak mudah
* Jika pada kumbung banyak hama tikus, bibit F2 media jagung beresiko untuk digunakan, karena seringkali baglog rusak karena bibit jagung yang terdapat pada baglog dimakan oleh hama tikus




Bibit F2 media gergajian

Membuat bibit F2 dengan menggunakan media gergajian yang perlu diperhatikan adalah kualitasnya. Media campuran gergajian ini digunakan karena lebih sedikit resikonya, tetapi hendaknya dibuat dengan campuran konsentrat agar bisa mendekati kualitas dari bibit media jagung. Proses pembuatannya adalah:


1. Siapkan gergajian yang telah dicampur kapur dan dibiarkan selama kurang lebih 3 minggu.
2. Kalau bisa pilih jenis gergajian dengan gradasi lebih besar/kasar.
3. Beri sedikit kalsium dengan kadar 1%
4. Taburkan beras jagung dengan perbandingan 1
5. Taburkan bekatul/dedak kualitas baik dengan perbandingan 2
6. Gergajian tadi perbandingan nya 3. Jadi takarannya 1:2:3 (beras jagung:bekatul:gergajian)
7. Campur hingga merata, lalu masukkan ke dalam botol, tutup dengan plastik tebal
8. Sterilisasikan menggunakan autoclave pada tekanan 2,5BAR selama kurang lebih 60 menit.
9. Keluarkan dan biarkan mendingin hingga suhu kurang lebih 38 derajat C
10. Inokulasikan bibit F1 kedalam media tadi







Kelebihan bibit F2 media gergajian adalah:


* Jika dibuat dengan perbandingan konsentrat tadi, maka kualitas sudah mendekati media murni biji-bijian jagung
* Resiko pada baglog lebih kecil karena media sudah sesuai (sama-sama gergajiannya dengan baglog)
* Lebih mudah dibuat (jarang kontaminasi)
* Tidak beresiko terhadap hama tikus




Kekurangan bibit F2 media gergajian adalah;


* Kekuatan bibit sedikit lebih rendah daripada bibit F2 media jagung
* Proses perkembangan miselium bibit F2 lebih lama daripada media jagung, ini wajar karena media gergajian lebih rapat rongga-rongganya daripada media jagung.




Karakter tumbuh jamur nantinya untuk baglog yang diinokulasikan dengan media jagung dan media gergajian juga sedikit berbeda pada panen pertama. untuk media jagung karena nutrisi lebih tinggi, biasanya karakter tumbuhnya bergerombol banyak tetapi kecil-kecil, untuk media gergajian normal saja.


Namun pada panen ke-2 dan seterusnya akan terpantau sama. Rekapitulasi hasil panen jamur biasanya juga sama saja..

Jadi, kesimpulannya dengan memperhatikan plus minus tadi, silahkan saja memilih, mau menggunakan media jagung, atau gergajian bibit F2 pada proses pembuatan baglog jamur tiram putih..
Memperhatikan perkembangan miselium PDA; F1; F2; dan Baglog jamur tiram putih
Saturday, January 08, 2011 5:08 AM
Dalam membuat baglog jamur tiram putih yang bisa berkesinambungan, ketersediaan bibit harus tetap diperhatikan. Ini untuk menghasilkan kualitas baglog yang baik. Seringkali kita terlupa, karena asyik membuat baglog, terkadang kurang memperhatikan apakah bibit F2 sudah tersedia untuk inokulasinya nanti. Padahal maksimal 2 hari dari sterilisasi di steamer, baglog sudah harus diinolukasikan.



Nah.., untuk itu ketersediaan bibit harus dijamin ada. Bagaimana memperhatikan siklus perkembangan miseliumnya..? Posting ini mungkin biar foto/gambar saja yang berbicara, agar lebih jelas..




PDA

Untuk PDA, tahap perkembangan miselium yang baik adalah pada hari ke-3 sudah tampak indukan terselimuti miselium. Di hari ke-4, miselium sudah mulai menyebar pada media agar-agarnya. Nah.. untuk botol kecil, biasanya di hari ke 7 sudah menyebar sekitar 70%, dan memasuki hari ke-10 sudah mencapai 100%. Untuk botol besar, kira-kira mencapai 100% pada hari ke-15.

PDA umur 2 hari

PDA umur 4 hari

PDA umur 4hari




PDA umur 7hari

F1

Untuk perkembangan F1, pada hari ke-3 atau 4, PDA yang dimasukkan pada media jagung sudah mulai menunjukkan reaksi pembentukan miselium. Lalu miselium tersebut mulai menjalar pada media jagung sekitar 20%-30% pada hari ke-7. Untuk mencapai 80% dari botol, biasanya untuk F1 memerlukan waktu sekitar 15-18hari. Dan mencapai 100% pada hari ke-20

F1 umur 3 hari

F1 umur 7 hari




miselia F1 umur 18hari

F2

Jika media F2 dari biji jagung, perkembangan miselium akan terpantau cepat, biasanya pada hari ke-15 atau hari ke-18 miselium sudah- mencapai kurang lebih 90%-100%. Namun jika menggunakan media gergajian, biasanya perkembangan miselium akan terpantau lebih lama. Tahap awal hingga ke mulut leher biasanya memerlukan waktu sekitar-3-5hari. Untuk mencapai 90%-100% memerlukan waktu sekitar 25-30hari.

F2 umur 3 hari


F2 umur 8 hari
Baglog

Untuk baglog, rata-rata perkembangan miselium hingga mencapai 90% memerlukan waktu sekitar 25hari-30hari. Setelah itu dibuka cincinnya, dan normalnya 7-10 hari kemudian akan tumbuh jamur tiram putihnya..

baglog umur 2-3hari






Ok mari diurutkan

PDA=15 hari ---> F1=20hari ---> F2=30hari ---> Baglog=30hari ---> tumbuh jamur 10 hari. Jadi dari awal membuat indukan PDA hingga menghasilkan jamur tiram putih memerlukan waktu 15+20+30+30+10 = 105hari.


Nah.., dengan memperhatikan siklus perkembangan miselium masing-masing bibit ini, InsyaALLAH kita bisa membuat schedulle/penjadualan kerja pada proyek jamur tiram putih dengan lebih baik.


Schedulle/penjadualan yang baik akan membuat produksi jamur kita bisa optimal dan juga tentunya sesuai dengan kualitas yang baik seperti yang diharapkan
Pemasaran jamur tiram.. (gimana sih..??)
Friday, January 07, 2011 5:57 AM
Banyak email, telpon, sms yang menanyakan kepada kami, bagaimana sih cara memasarkan jamur tiram yang baik dan efektif..? Apakah bisnis jamur tiram ini masih cukup prospektif untuk dijalankan..?
Ada lagi yang bertanya.., apakah kami punya supplier jamur tiram yang menerima hasil panen jamur dengan jumlah besar..? Misalkan 100kg per hari..?




Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab dengan jawaban.., yaa.. kalau memasarkan jamur tiram itu jangan terlalu dipikir sulit.. tapi juga jangan dipikir gampang.. Tapi dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian masyarakat.. dan juga meningkatnya konsumsi jamur, InsyaALLAH bisnis jamur tiram ini masih akan semakin prospektif..



Ya.. jamur itu harus dianggap sebagai sayuran biasa saja lah.. Jadi orang beli jamur sama saja dengan beli sayur.. jangan dianggap mahal..



Ok, untuk memasarkan jamur tiram putih.., kita memang harus melihat potensi daya serap yang ada di masyarakat sekitar kita..


Sebelumnya paling sederhananya kita harus survey ke pasar setempat apakah sudah ada pemasaran jamur tiram, seberapa besar kebutuhannya, dan bagaimana sistemnya. Setelah pasar, kita juga perlu membidik beberapa segmen yang lainnya seperti, warung, rumah makan, outlet-outlet jajanan (seperti jamur goreng, tahu goreng), supermarket, catering, dan sebagainya..

Bahkan sekarang, tempat jualan nasi goreng, capjay, chinese food, untuk membuat capjay sudah diberi jamur tiram.., dalam survey kami, satu outlet saja membutuhkan 2-3kg per harinya..



Jadi coba dipilah lagi dan diperhatikan potensi penjualan jamur tiram tadi..:


* Pasar tradisional
* Warung
* Rumah makan
* outlet jamur crispi, tahu crispi, singkong goreng keju plus jamur
* Outlet martabak
* Usaha catering
* Outlet nasi goreng
* Supermarket
* dll dsb deh..




Jreng.., kesimpulannya potensi penjualannya banyak sekali khan..? Kita tinggal membagi segmennya saja dan fokus pada penjualan ke bagian mana..




Pengalaman pribadi kami, pada awalnya penjualan jamur tiram kami ikut plasma saja. Untuk hal ini, memang resikonya sangat kecil, kita tidak perlu berfikir pada masalah pemasaran dan semua hasil panen jamur diterima. Namun memang, harga jamur tiram yang diterima juga tidak akan mahal. Kami sendiri saat itu sampai akhir 2008 diterima dengan harga Rp. 6000,- per Kg..

Nah.., dengan harga tersebut, walaupun ada keuntungan namun sangat sedikit.

Situasi pada pemasaran plasma

Coba kita hitung, jika per baglog hasil jamur terjual sekitar 400gram, jadi akan menghasilkan uant 0,4x Rp. 6000,- = Rp.2400,-. Dengan harga baglog Rp.1800,-, keuntungan kotornya per baglog hanya Rp.600,-. Jadi dari 10.000baglog akan menghasilkan keuntungan kotor 6juta selama kurang lebih 5bulan (1bulan inkubasi 4 bulan produksi). Dari keuntungan kotor itu masih dikurangi operasional, pembayaran tenaga kerja, kontrak lahan dan sebagainya. Kesimpulan, keuntungan bersihnya tinggal 300.000 per bulan.. hehe dikit yaa..

Pemasaran ke warung/outlet
(curah saja)




Pemasaran ke pasar tradisional dikemas per 200gram

Karena kondisi tersebut pada akhir 2008 kami dengan sedikit nekat mengajukan diri untuk keluar dari sistem plasma penjualan jamur tiram. Kami langsung melakukan survey di kota Malang dan Surabaya.., menawarkan jamur tiram. Dan Alhamdulillah responnya cukup baik dan prospektif. Syaratnya yaa.., kita jangan asal ngomong saja, kita harus benar-benar punya produk jamur tiram.. karena rata-rata pelanggan akan menanyakan kapan bisa mulai support. Di Malang dan Surabaya ada yang minta 2kg, 5kg, 10kg, 15kg, 7kg bahkan hanya 1,5kg perhari.. dari seluruh pelanggan kami kumpulkan ternyata permintaan per harinya mencapai 100kg.. Luar biasa.. dan rata-rata kami bisa menjual dengan harga Rp.8000 - Rp.10.000 per kg melihat grade dan kualitas jamur tiram..




Bayangkan, dengan sistem plasma, beda harganya Rp.8000 - Rp.6000 = Rp.2000 per kg. Jangan anggap remeh nilai 2rb /kg ini.. panen dari 2 kumbung dengan kapasitas masing-masing 8000 baglog bisa mencapai 3200kg x2 = 6400kg, coba kalikan 2rb tadi. Selisih penjualan yang bisa didapat adalah sejumlah Rp. 12.800.000,- wow.. Luar biasa..!!!

Akhirnya dengan segala resikonya kami dengan bersemangat melakukan pemasaran sendiri saja. Walaupun harus bolak-balik Malang-Junggo Batu dengan jarak rata-rata 25km (pp 50km) untuk nilai 12juta an tadi..


Operasional pemasaran (cukup motor saja)

Dan untuk ini kami hanya menggunakan sepeda motor.. karena rata-rata pelanggan meminta jamur tidak perlu dikemas, jadi dijual curah saja.., sehingga cost operasionalnya bisa cepat.

Berikut ini video pengemasan jamur untuk dijual ke pasar tradisional, membutuhkan cukup banyak tenaga untuk mengemas sekitar 80kg jamur:





Bayangkan, jika menjual ke pasar tradisonal, harus dikemas 200gram, itu membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit (operasional mahal). Jika menjual curah, untuk hasil panen 100kg, cukup dikerjakan 3 orang saja.. Ahamdulillah..

Panen 70kg hanya 3 orang yang kerja
(termasuk saya, hehe)

Kesimpulannya ya yang tadi itu.. Pemasaran tidak perlu dipikir sulit.., tapi juga tidak gampang, bagaimana usaha kita saja. Dan jangan berfikir selalu harus menjual ke tengkulak atau supplier jamur tiram yang besar saja.., jika kita mampu langsung direct sell ke pelanggan, justru harga jamur yang kita jual juga bisa semakin tinggi..

Media files
video-play.mp4 (Winamp media file, 0 bytes)
Sistem refresh untuk libur sejenak..
Thursday, December 30, 2010 11:59 AM
Baglog jamur kita jika sudah memasuki masa produksi, maka akan terus menumbuhkan jamur secara bergantian.. Pada saat produksi ini akan timbul sedikit masalah jika jatuh pada hari-hari libur seperti hari besar, hari raya, libur tahun baru, dan sebagainya dimana pedagang off sementara.
Bagaimana mengantisipasinya agar panen kita tidak terbuang percuma..? Bagaimana teknik yang justru bertujuan untuk menghambat atau memperlama panen selanjutnya..?



Foto baglog setelah direfresh
lalu ditutup



Teknik yang biasa kami lakukan adalah teknik refresh. Teknik ini pernah kami bahas sebelumnya untuk mengantisipasi atau mengatasi hama ulat. Namun teknik ini juga berguna untuk menghambat panen sementara, paling tidak bisa menghambat sekitar 2-3hari jika bertepatan dengan hari libur...





Bagaimana cara kerja teknik ini..? Sederhana sekali:


* Bersihkan baglog dengan melakukan pencungkilan mulut baglog dari bekas-bekas panen
* Pembersihan juga meliputi bakal buah, pin head. Semua dicungkil habis..
* Jika ada bakal miselia pun juga dibersihkan.
* Lalu bersihkan pula lantai kumbung sebersih mungkin dari sisa-sisa bekas pembersihan tadi.
* Langkah ke-5 ini optional, bisa juga dengan menutup kembali mulut baglog. Untuk hal ini sebaiknya membeli cincin baglog yang dilengkapi dengan tutupnya juga.
* Lalu tutup kumbung tanpa diberi sirkulasi udara.
* Tetap jaga kelembaban udara di kisaran 85%-90%




Setelah melakukan teknik refresh tadi, InsyaALLAH jamur tiram putih akan tertunda pertumbuhannya selama kurang lebih 2-3hari. Di hari ke-2 dari libur tersebut, bisa kembali diberikan raising yaitu pengabutan hingga ke mulut botol, jadi pada saat hari ke-3 pertumbuhan sudah normal kembali.




Jika ingin libur yang lebih lama yang mencapai kurang lebih seminggu atau 6 hari. Setelah melakukan pembersihan, mulut baglog wajib untuk ditutup kembali. Lalu jangan melakukan penyiraman kumbung dan lantai. Pada saat ini posisi baglog akan kembali di posisi inkubasi.




Keuntungan dari sistem ini adalah:


* Karena sudah dibersihkan dengan baik, posisi baglog kembali fresh untuk pembentukan buah tanpa diganggu kotoran pada mulut baglog
* Dapat menghambat sementara pembentukan jamur tiram pada saat yang memang tidak kita inginkan untuk tumbuh.
* Menghemat atau mempertahankan nutrisi baglog. Jika dibiarkan menumbuhkan jamur, tentunya nutrisi baglog akan berkurang, jika jamur yang tumbuh itu bisa terjual sih.. tidak apa, lha jika memang pada saat hari libur, lebih baik direfresh saja. Dihambat pertumbuhannya, agar nutrisi dalam baglog bisa tetap stabil.


Yang perlu diperhatikan jika melakukan sistem ini adalah:


* Pembersihan yang dilakukan harus bersih dan teliti
* Kadar air dalam baglog harus tetap dipertahankan agar baglog tidak menjadi kering, caranya dengan menutup mulut baglog dan juga menjaga kondisi kelembaban kumbung.
* Tetap perhatikan kebersihan kumbung.
* Kurangi sirkulasi udara saat refresh
* Intinya mengembalikan kondisi baglog seperti saat inkubasi. Jadi yang penting kadar air dalam baglog jangan berkurang.




Memang sebagai petani, ada kalanya kita ingin libur sejenak, karena jenuh juga jika tiap hari panen terus. Setidaknya teknik ini bisa untuk istirahat sejenak 2-3hari. Maksimal 6 hari




Pemilihan PDA (F0) yang baik
Thursday, December 23, 2010 7:57 AM
Ketika kita sudah berhasil dalam membuat indukan PDA, jangan lupa untuk bersyukur kepada ALLAH SWT. Sungguh pembiakan jamur tiram dalam teknik budidaya jamur tiram putih ini merupakan keajaiban yang menunjukkan kekuasaan dan kebesaran ALLAH SWT. Ini pun hanya salah satu keajaiban dari jutaan keajaiban di alam dari ciptaanNYA.


Bayangkan saja.., hanya dari indukan jamur kecil seperti foto di bawah ini.., InsyaALLAH sudah dapat menghasilkan 4 botol PDA, Subhanallah.. Kami masih selalu takjub akan keajaiban dari ciptaan ALLAH SWT ini.
Indukan yang dipilih untuk dibiakkan ke PDA




Ini juga contoh jamur indukan untuk PDA
Bagaimana tidak.., jika indukan tadi diletakkan di botol ceper, InsyaALLAH dapat menghasilkan 25 botol F1. Padahal dari 1 botol F1 saja, bisa untuk menghasilkan 60 botol bibit F2. Satu botol bibit F2 dapat menghasilkan sekitar 30 baglog..


Jadi jika diurut, satu jamur kecil tadi --> jadi 4 botol PDA --> 100 botol F1 --> 6000 botol F2 --> 180.000 baglog jamur tiram putih.. Yang jika per baglog menghasilkan sekitar 400gram jamur tiram, maka dari 180.000 baglog tadi akan menghasilkan InsyaALLAH sekitar = 72.000kg jamur tiram atau 72 TON..!!!! Subhanallah...


Sungguh benar firmanNYA yang mengatakan suatu kebajikan itu pahalanya akan dikalikan 10 lalu dikalikan 70 lalu dikalikan 100 bahkan tak terhingga.. dan ALLAH SWT akan melipatgandakan balasan kebaikan kepada orang yang dikehendakiNYA...




Untuk itu janganlah berputus asa jika masih gagal dalam membuat kultur PDA, karena sungguh, modalnya hanya panci presto saja, InsyaALLAH sudah bisa membuat kultur PDA. Jika tidak punya.., ya pinjam saudara.., jika tidak ada, ya pinjam tetangga.., masa sih tetangga satu RT ngga ada yang punya panci presto..??!! Hari gini gitu loh..




Nah.. sekarang mari kita bahas sedikit mengenai bibit PDA yang sudah berhasil dibuat tadi. Sungguhpun jika kita berhasil, ternyata masih ada PR yang harus diperhatikan. Dalam memilih indukan untuk dibuat kultur sporanya, kita hanya berdasarkan kasat mata saja. Kita tidak tahu apakah indukan yang dipilih tadi memiliki spora yang baik, banyak atau tidak.


Namun ternyata itu dapat terlihat pada penyebaran miselia pada PDA.



PDA yang baik, sebaran miselianya seperti membentuk gelombang.. tebal dan bertumpuk tumpuk. Sungguh indah sekali jika disaksikan. Hal ini dapat diperhatikan pada foto berikut ini:



Contoh miselia PDA tebal dan bergelombang




PDA yang baik ini InsyaALLAH akan menghasilkan F1 yang baik pula, yang selanjutnya akan menghasilkan F2 dengan kualitas baik. Juga bisa terasa setelah memproduksi baglog. Jamur yang dihasilkan bisa tebal, baik dan menyenangkan bentuknya jika dilihat.




Adapun jika penyebaran miselia tipis seperti pada foto berikut ini, sebaiknya walaupun tidak gagal, disortir saja dan jangan diturunkan pada bibit F1. Karena akan berpengaruh selanjutnya pada pembuatan F2 dan baglog jamur tiram putih..




Contoh penyebaran miselia PDA yang kurang baik

Pebudidaya jamur tiram putih seperti kami pun sesungguhnya hanya bermodalkan alat-alat dan tempat yang sangat sederhana. Tidak dilengkapi laboratorium yang memadai, ruangan lab steril seperti yang layak digunakan. Tetapi janganlah patah arang, semuanya secara kasat mata juga dapat teramati langsung.. Jadi InsyaALLAH prosesnya pun tidak akan membutuhkan biaya yang besar.. Yah.. kata orang, dimana ada kemauan, di sana ada jalan..




InsyaALLAH... maka.. berusahalah.., "ALLAH tidak akan merubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang merubahnya.."
Meningkatkan BER, agar panen jamur BANYAK!!
Friday, December 03, 2010 9:47 AM
Jumlah BER (Biological Economic Ratio) atau perbandingan jumlah berat panen jamur dengan berat media baglog yang ada selama ini rata-rata 25%-35%, semua bergantung kualitas baglog, kualitas spawn (bibit) dan perawatan.
Bagaimana caranya agar kita dapat mencapai BER yang lebih dari itu..? Apakah mungkin..? Dan apa saja resikonya..? Mari kita bahas bersama-sama. Bagi para pakar jamur tiram, feed back dan kritik saran atas tulisan ini sangat kami harapkan.



Meningkatkan BER sangat diharapkan dapat dilakukan agar hasil panen jamurnya bisa banyak, juga lama.
Tentunya dengan meningkatkatnya BER, keuntungan pebudidaya pun akan meningkat. Lalu bagaimanakah caranya untuk meningkatkan BER ini..?

Berikut sedikit tips dan tatacaranya:





1. Gunakan jenis gergajian yang memiliki berat lebih atau lebih keras (BJ nya lebih berat)

Umumnya di pulau Jawa dan sekitarnya, pebudidiaya menggunakan kayu sengon laut untuk budidaya jamur tiram putih. Hal ini dikarenakan usia tumbuh kayu sengon singkat, sehingga cukup banyak dan mudah didapatkan. Selain itu budidaya dengan kayu sengon laut cukup mudah dilakukan dan resikonya pun tidak terlalu besar. Namun BER yang didapatkan jika menggunakan kayu sengon laut hanya berkisar maksimal 30% saja.


Jika ingin mendapatkan BER yang lebih, bisa memilih kayu mahoni, mindi, waru, coklat, meranti. Jenis kayu yang disebutkan tadi memiliki karakter lebih keras dan berat daripada kayu sengon laut. Artinya dengan menggunakan kayu tersebut, diharapkan BER akan meningkat.




2. Gunakan bibit F2 yang sesuai dengan kayu tersebut.

Kayu yang memiliki karakter lebih keras, maka bibit F2 yang akan diinokulasikan juga harus lebih kuat daripada biasanya. Ini agar pertumbuhan miselia dapat dengan cepat menjangkau atau menembus kayu tersebut. Jika baglog menggunakan jenis kayu mahoni (misalnya) maka, bibit F2 yang digunakan (jika bibit gergajian), sebaiknya berasal dari kayu mahoni pula.

Bibit F2 nya juga harus merupakan konsentrat dengan perbandingan nutrisi beras jagung:bekatul:gergajian 1:2:2 atau 1:2:3.




3. Rasio pemberian bibit pada baglog

Perlu diperhatikan agar perkembangan miselia dapat segera menembus baglog dengan cepat, maka perbandingan berat bibit ke media baglog adalah 0,8%-1,3%. Artinya, jika media baglog yang kita buat memiliki berat 1400gram (1,4kg), maka bibit yang kita inokulasikan beratnya harus 11,2gram - 18,2gram. Jumlah bibit yang diinokulasikan ke baglog sebanyak ini diharapkan akan mempercepat perkembangan miselia dan juga mengecilkan rasio kegagalan. memang, kesannya jadi boros di penggunaan bibit, oleh sebab itu diharapkan pebudidaya dapat memproduksi bibit sendiri..




4. Rasio pemberian nutrisi pada baglog

Nutrisi atau jumlah bekatul, tepung jagung, dan zat lainnya yang akan diberikan pada campulran media normalnya sekitar 15%. Namun untuk memperoleh BER yang lebih, nutrisi yang diberikan juga harus ditingkatkan. Akumulasi total yang diberikan adalah berkisar antara 20% hingga 25% dari berat gergajian. Mengapa pemberian nutrisi ini harus ditingkatkan..? Karena jenis kayu yang digunakan lebih keras dan berat, sedangkan nutrisi itu diperlukan untuk segera memperkuat penumbuhan miselia, jadi nutrisi yang lebih diharapkan mempercepat membentukan dan penyebaran miselia. Tapi untuk pemberian nutrisi ini, harus diperhatikan sterilisasinya juga, posting kami tentang korelasi antara pemberian nutrisi dan sterilisasi perlu untuk diperhatikan.




5. Memperbanyak rasio berat media

Kalau tips ini hanya untuk meningkatkan berat media baglog. Jika ingin memperoleh hasil yang lebih banyak, tentunya volume dan berat baglog harus diperbanyak. Jadi jika normalnya ukuran baglog adalah ber diameter 11cm tinggi 25cm (berat 1,4kg), jika ingin memperoleh hasil lebih, bisa dengan memperbesar baglog dengan ukuran baglog seberat 2kg..




Namun.., untuk meningkatkan BER dengan tips yang sudah diberikan tadi ada beberapa hal yang sangat perlu untuk diperhatikan, antara lain..:




1. Perhatikan dengan benar ph dari gergajian

ph untuk budidaya jamur adalah 7, pengaturan ph ini dapat dilakukan dengan mencampurkan kapur secara merata pada gergajian. Ada baiknya, jika gergajian masih baru, harus dilapukkan terlebih dahulu dengan mencampurkan kapur, lalu dibiarkan selama 1bulan, barulah gergajian dapat digunakan dala proses budidaya. ph ini sangat penting karena jika ph masih diatas 7, maka kegagalan akan tinggi. Cek dengan benar ph sebelum digunakan dengan menggunakan ph meter atau kertas lagmus.



Tampak pencampuran kapur pada gergajian untuk pengaturan ph

2. Pastikan sterilisasi harus benar-benar matang.

Penggunaan jenis gergajian yang lebih keras, otomatis akan memperlama proses sterilisasi. Proses pengukusan yang normalnya sekitar 8jam, jika menggunakan jenis kayu yang lebih keras, bisa jadi akan lebih lama. Pastikan dengan benar termometer sudah menunjukkan suhu media 100 derajat C dan ada baiknya setelah suhu tersebut tercapai, pertahankan dulu selama 2-3jam.. Agar rasio kegagalan dapat diperkecil.. Biasanya jika ingin menggunakan jenis serbuk gergajian dari jenis kayu yang lebih keras, sterilisasi dengan menggunakan drum kurang kuat untuk mematangkan baglog. Apalagi dengan pemberian nutrisi yang lebih banyak, diperlukan proses sterlisasi yang benar-benar panas pada steamer.




3. Proses inokulasi dan inkubasi

Karena diperkirakan pengembangan miselia akan lebih lama daripada biasanya, perlu diperhatikan dengan benar proses inokulasi dan inkubasinya. Setelah inokulasi yang benar dengan memberikan bibit dengan perbandingan 1% tadi, proses inkubasi harus ditempatkan di tempat yang benar-benar bersih dan steril. Pada 10 hari pertama ada baiknya baglog tidak terkena cahaya dan juga hanya diberi sedikit sirkulasi udara saja, nah.. setelah 10 hari tersebut, berikan sirkulasi udara dan cahaya, agar perkembangan miselia pada baglog bisa menyebar dengan baik...




4. Perlunya penelitian kecil..

Jika ingin menggunakan serbuk gergajian dengan jenis yang lebih keras, ada baiknya kita mencobanya dahulu pada skala kecil, dan disterilkan pada autoclave. Nah.., jika memang pengembangan miselia baik, barulah bisa dilakukan untuk skala produksi yang lebih besar..

ada baiknya posting kami tentang faktor yang menyebabkan kegagalan dalam pembuatan baglog juga diperhatikan, karena tips untuk meningkatkan BER tadi juga meningkatkan pula resikonya.






Agar panen banyak/wajar, ini PERLU DIPERHATIKAN..!!
Monday, November 29, 2010 7:08 AM
Bagi pemula, bahkan bagi yang sudah lama bergelut di bisnis jamur tiram ini, terkadang kita kurang tahu apakah progress panen pada kumbung jamur tiram kita sudah normal/optimal.
Banyak juga yang mengeluhkan kenapa kog panen jamur tiram pada kumbungnya sedikit?

Bagaimana menilai bahwa jumlah jamur yang dipanen pada kumbung itu normal atau tidak..?

Dan bagaimana pula untuk bisa mendeteksi apabila jumlah panen tersebut dibawah standar?



Panen jamur bisa dikatakan baik/wajar/banyak apabila memenuhi beberapa indikasi berikut ini:




1. Kestabilan panen

Kami pernah menulis sebelumnya bahwa jumlah baglog yang panen pada suatu kumbung berfluktuasi antara 3% hingga 10% dari jumlah baglog yang ada. Jadi jika kita memelihara 1000 baglog, maka setiap harinya jumlah baglog yang mengeluarkan jamur tiram putih adalah 30 buah hingga 100 buah baglog.

Jika berat rata-rata jamur tiram yang dipetik di tiap baglognya memiliki berat 100gram, maka hasil panen hariannya berkisar antara 0,1x30= 3kg hingga 0,1x100= 10kg.


Berat satu tangkai jamur tiram bisa mencapai 100gram lebih

Dalam pengalaman kami, kisaran rata-rata per 1000 baglog adalah kurang lebih menghasilkan 4kg-5kg jamur tiram putih. Jadi jika merawat 5000 baglog tinggal dikalikan saja = 20kg-25kg per hari, dan seterusnya jika 10.000 baglog.




2. Progress panen pada bulan pertama dan kedua

Karakteristik panen jamur tiram putih jenis florida dan ostern memang bierbeda, tetapi kalau direkapitulasi hasilnya pada bulan pertama dan kedua, hasilnya hampir sama.

Diasumsikan hasil jamur totalnya adalah 30% dari berat baglog (baca berapa hasil panen jamur tiram total), jika berat baglog 1400gram (1,4kg), maka target panen adalah = 0,3*1400 = 420gram (4,2ons). Ini jumlah panen yang sangat optimis dan baik, jadi per 1000 baglognya diharapkan akan menghasilkan panen total 420kg dalam 4-5bulan masa panen.



Nah.., progress panen yang wajar/baik dari target tersebut adalah:


Pada bulan pertama, kira-kira sudah mencapai 35% dari target panen = 147kg

Pada bulan kedua, kira-kira sudah mencapai 65% dari target panen = 273kg.




Jadi, jika progress panen pada kumbung kita tidak mencapai angka itu, bisa dikatakan bahwa ada masalah yang harus diperhatikan. Tetapi jika tidak terlalu jauh capaiannya, ya bisa dikatakan juga masih wajar. Kalau lebih.. Alhamdulillah tentunya..




3. Rekapitulasi hasil total

Rekap total ini hanya bisa dilakukan jika sudah mencapai 4bulan masa produksi. Di sini kita sudah tidak bisa berbuat banyak jika jumlah panen dibawah target, karena baglog sudah melewati masa produksinya. Ini tentunya ditandai dengan baglog yang sudah kempes dan ringan. Bagi sebagian pebudidaya mungkin juga ada yang bisa hingga 6bulan. Tetapi bagi kami, umur yang pendek ini agar perputaran bisnis bisa lebih cepat. Hasil panen total jamur per baglognya seperti yang telah dibahas sebelumnya yaitu berkisar antara kurang lebih 30% dari berat baglog. Ini sudah pernah kami bahas dalam berapa hasil panen jamur bagian 1, dan berapa hasil panen jamur bagian 2.




Dari ketiga indikasi tersebut, InsyaALLAH sudah bisa ditentukan, apakah panen jamur tiram pada kumbung kita normal atau kurang baik. Penting kiranya diperhatikan, jika indikasi kurang baik panen tersebut sudah dideteksi pada bulan pertama, agar kita bisa segera menentukan langkah berikutnya untuk melakukan identifikasi masalah dan segera melakukan perbaikan.

Ada baiknya juga referensi tentang pola pertumbuhan jamur tiram berikut diperhatikan juga untuk menilai normal tidaknya panen jamur di kumbung.




Jika Ternyata panen tidak baik, (kurang banyak) ada beberapa sebab yang PERLU DIPERHATIKAN, YaiTU..:




1. Kadar/takaran nutrisi pada baglog kurang baik/tidak sesuai.

Takaran yang baik yang terkandung dalam baglog biasanya adalah kandungan sekitar 15%-20% akumulasi kadar tepung jagung dan bekatul. Boleh juga ditambah sedikit air gula. Tetapi pada jenis kayu tertentu terkadang penambahan aditif seperti air gula malah tidak sesuai. Nah.., apabila kadar takaran ini kurang, walaupun tumbuh miselium, terkadang jumlah jamur yang dipanen kurang baik. Baca posting kami tentang faktor yang mempengaruhi kualitas baglog.




2. Bibit yang kurang baik.

Hal ini sudah kami bahas sebelumnya. Intinya memang harus digunakan strain bibit yang berkualitas untuk menghasilkan panen yang baik pula.




3. Kontaminasi dan gangguan hama.

Pada saat di kumbung, bisa jadi ada gangguan dari bakteri tertentu, hama ulat, siput kecil, dsb. Ini terjadi bukan karena baglog yang kurang matang pada proses sterilisasi, tetapi kondisi kumbung itu sendiri yang kurang bersih. Penting dilakukan, sebelum diisi baglog, kumbung disterlisasi dengan menggunakan formalin 4% atau bisa juga dengan menggunakan fungisida. Bersihkan kumbung dengan baik, dan usahakan lingkungan sekitar kumbung pun hendaknya bersih. Dalam artian di sekitar kumbung kalau bisa jangan ada tempat pembuangan sampah atau sejenisnya.




4. Kumbung terkena banyak kontaminasi gas, asap, CO2..

Perkembangan jamur memerlukan oksigen sebagai pemicu tubuh buah. Kontaminasi asap atau Co2 yang berlebihan masuk ke dalam kumbung tentunya dapat menghambat perkembangan atau pembentukan tubuh buah. Akhirnya baglog gagal atau hanya sedikit menghasilkan jamur. Usahakan pembangunan kumbung jauh dari lokasi pembakaran sampah, bengkel motor, dan apapun yang menghasilkan asap. Lebih bagusnya kalau dekat dengan pepohonan.




5. Tata cara panen dan perawatan yang salah

Perawatan sangat penting, ini dikarenakan pemanenan jamur adalah setiap hari. Cara panen yang benar adalah mencabut jamur hingga akarnya secara sempurna, bahkan hingga gergajiannya ikut juga. Pencabutan yang tidak sempurna menyebabkan tertinggalnya sisa tangkai di mulut baglog, hal inilah yang menyebabkan menghalangi panen berikutnya dan bahkan jika membusuk dapat menyebabkan munculnya ulat, bakteri, dan mengkontaminasi baglog.

Perawatan memang sebaiknya dilakukan dengan teliti per baglog

Jadi cara panen yang benar disertai dengan selalu memeriksa kebersihan baglog sangat menentukan hasil panennya.




6. Kurangnya sirkulasi udara dan cahaya

Apabila pada masa inkubasi untuk perkembangan miselium tidak memerlukan oksigen, sebaliknya pada saat fase penumbuhan jamur, sangat diperlukan oksigen sebagai pemicu tumbuhnya. Jadi kumbung yang kurang baik sirkulasi udaranya akan berpengaruh pada hasil panen nantinya. Ini juga terkait dengan jumlah baglog yang terlalu padat dan banyak pada kumbung, akhirnya karena sirkulasi udara kurang, jamur yang dihasilkan pun kurang baik dalam kuantitas. Standar pembuatan kumbung yang baik memang masih terus dicari, tetapi beberapa referensi kumbung pada posting kami sebelumnya bisa menjadi pertimbangan.




7. Kelembaban udara yang kurang..

Kelembaban udara yang diperlukan agar dihasilkan jamur yang baik berkisar antara 80%-90%. Apabila kelembaban udara kurang, dikhawatirkan baglog akan mengering, ini yang menyebabkan jumlah panennya akan berkurang, karena kadar air dalam baglog harus stabil di kisaran 70%, jika berkurang, maka akan kurang juga jamurnya atau malah gagal menumbuhkan jamur.




8. Kadar air dalam baglog yang berlebihan

Ini malah kontradiksinya, kadar air dalam baglog harus pas. Jika berlebih, dikhawatirkan akan memicu kontaminan yang akhirnya baglog akan gagal menumbuhkan jamur tiram.



Mungkin masih ada beberapa hal lagi, tetapi memang umumnya berkisar antara perawatan baglog di dalam kumbung..

Memang untuk merawat baglog jamur tiram, diperlukan ketelatenan, ketelitian, dan juga harus rajin dalam artian menjaga higinitas dan kebersihannya. Kumbung yang dirawat dengan baik akan berpotensi menghasilkan jamur tiram dalam jumlah yang banyak pula..




Pengalaman kami, ada kumbung yang perawatannya optimal, dari 6500baglog ukuran 1,4kg dapat menghasilkan jamur sebanyak 3000kg (3ton) dalam waktu 130hari..




Tetapi sebaliknya, ada kumbung yang kurang dirawat dengan baik, dari 5900baglog ukuran 1,4kg hanya menghasilkan jamur sebanyak 1700kg saja.




Intinya.., semua kembali kepada kita sendiri... tidak ada bisnis atau usaha yang hasilnya bisa optimal jika tidak dengan benar diperhatikan
Tips tentang kualitas bibit jamur tiram
Friday, November 05, 2010 8:50 PM
Salah satu faktor penting yang menentukan kualitas baglog jamur tiram adalah kualitas dari bibit jamur tiram putih. Bibit jamur yang baik nantinya akan menurunkan miselium jamur secara cepat dan berkualitas pula.
Berikut ini sedikit tips yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan dan juga menggunakan bibit jamur tiram putih agar menghasilkan baglog yang berkualitas.




Bibit yang baik berasal dari indukan yang baik pula

Tips pertama ini artinya kita harus benar-benar memperhatikan kualitas indukan yang nantinya akan digunakan untuk membuat PDA. Memang dalam mencari indukan ini agak sulit dan sedikit untung-untungan juga, karena kita hanya mengadalkan kasat mata saja. Harapannya memang indukan yang dipilih dalam membuat PDA itu mengandung spora jamur yang banyak sehingga PDA yang dihasilkan bisa tebal dan bagus miseliumnya. Tentang pembuatan bibit PDA ini bisa dilihat pada posting kami Pembibitan F0.


Pengalaman kami dalam membuat PDA, dari beberapa botol PDA, kami benar-benar memilih PDA yang memiliki miselium tebal, seperti pada contoh foto berikut ini.



Miselium yang tebal pada PDA ini nantinya jika diturunkan, InsyaALLAH akan menghasilkan bibit F1 dengan kualitas baik. Dan tentu saja selanjutnya dari kualitas bibit F1 yang baik akan menghasilkan bibit F2 dengan kualitas baik pula.
Pada foto berikut tampak miselium pada PDA sebelah kiri kurang kuat, ini berarti indukan yang dipilih kurang memiliki spora yang kuat, sedang yang sebelah kanan tampak miselia tebal dan banyak, jadi PDA dari botol sebelah kanan yang dipilih untuk diturunkan ke F1.






Pastikan dan catat turunan dari bibit yang ada

Sebelumnya mari kita samakan persepsi dahulu. PDA kami sebut dengan F0, selanjutnya turunan PDA yaitu F1, turunan F1 disebut F2.

Untuk menghasilkan baglog jamur yang baik, seyogyanya maksimal turunan ada di F2, memang jika kualitas F2 cukup baik, masih boleh diturunkan menjadi bibit F3, tetapi tetap sebaiknya terakhir turunan untuk menghasilkan baglog adalah bibit F2.
Mengenai pembuatan F1 dapat dilihat di posting kami tentang pembibitan F1.

Tingkat kekuatan atau kerapatan miselium akan semakin menurun jika bibit diturunkan. Jadi pada PDA, tampak miselium yang merambat pada media agar sangat rapat dan halus.. ini hanya kasat mata saja, tetapi juga bisa diamati dengan menggunakan mikroskop. Selanjutnya jika diturunkan ke F1, tingkat kerapatan miselia akan berkurang, demikian seterusnya.


Pada foto berikut ini sama-sama menggunakan media jagung, tetapi pada foto bagian kiri adalah F2, sedang yang kanan F1. Jika diamati dengan benar, akan tampak miselia pada F2 sedikit lebih kasar dari yang F1 yang teramati halus dan lebih lembut (lebih rapat).



Yang sering jadi pertanyaan, apakah bisa bibit F1 langsung diturunkan ke baglog. Menurut pengalaman kami jawabannya bisa, tetapi karakter tumbuh jamur pada awal kecil-kecil, bergerombol dan tipis, jamur baru tumbuh normal setelah panen ke-2.




Gunakan media yang baik pada F2
Untuk membuat bibit F2 bisa menggunakan jagung, gabah, atau campuran gergajian. Dalam pengamatan kami, memang F2 yang menggunakan jagung perkembangan miselianya kuat, namun terkadang beresiko ketika di kumbung seringkali diganggu hama tikus. Tikus memakan bibit jagung yang terdapat pada baglog yang akhirnya menyebabkan baglog menjadi rusak. Bibit F2 yang menggunakan gabah dalam pengamatan kami kekuatan miselianya masih di bawah jagung, dan seringkali karena bentuknya lancip/tajam, beresiko menyebabkan plastik baglog menjadi lubang yang akhirnya memicu kontaminasi.

Karena sebab-sebab tersebut, kebanyakan pebudidaya menggunakan media gergajian pada bibit F2 karena dirasa aman. Sebab kedua adalah, pada baglog media yang digunakan adalah media gergajian, jadi jika bibit F2 nya juga gergajian, maka lebih sesuai.

Campuran F2 yang baik adalah menggunakan perband ingan jagung giling, bekatul, gergajian dengan 1:2:3. Ini adalah formula dengan nutrisi tinggi. Tingginya nutrisi ini akan teramati pada tebalnya warna putih miselia yang merambat. Kami sendiri untuk meyakinkan, terkadang menggunakan campuran konsentrat 1:2:1, walau resiko pembuatan cukup tinggi. Tetapi jika menggunakan autoclave dengan tekanan 2,5BAR selama 60 menit, InsyaALLAH tingkat kegagalan sangat rendah.

Bagi kami, F2 yang baik juga harus padat, sehingga miselia yang terdapat dalam botol sangat rapat dan kuat, ini nantinya akan tampak jika diinokulasikan ke baglog, dalam 1botol F2 yang padat bisa menghasilkan 40baglog bahkan lebih. Baglog yang dihasilkanpun InsyaALLAH akan cepat membentuk miselia.




Perhatikan waktu inokulasi yang tepat

Waktu inokulasi bibit F2 ke baglog maksimal adalah 24 jam sejak dikeluarkan dari steamer. Suhu terbaik menurut pengalaman kami adalah di kisaran 38 derajat C atau masih agak hangat. Jika baglog sudah terlalu dingin saat diinokulasikan beresiko terhadap kegagalan.
Lihat posting kami tentang inokulasi baglog.




Perhatikan usia bibit F1 dan F2

Bibit bisa dikatakan kadaluarsa atau kualitasnya berkurang jika sudah lebih dari 2 minggu sejak miselia mencapai 100% pada botol. Menurut pengalaman, usia maksimal adalah 1 minggu sejak miselia mencapai 100%, lebih dari itu kekuatan bibit sudah berkurang karena termakan oleh bibit itu sendiri. Menurut pengalaman kami, bibit dengan usia yang masih muda, baru mencapai 100% memiliki kekuatan yang baik untuk digunakan pada baglog. Bahkan jika pada botol, miselia masih mencapai 90%, itupun sudah bisa digunakan dan bibit ini memiliki kekuatan yang baik. Syaratnya jangan digunakan seluruhnya, gunakan hanya 50% dari isi botol, lalu tutup kembali dengan rapat dan disimpan. Ketika sisa bibit miselia sudah penuh, langsung habiskan. Cara ini dapat digunaka apabila kita ingin segera menggunakan walau bibit belum mencapai 100%.

bibit sisa setelah miselium mencapai 100%

Usia ini sangat penting untuk diperhatikan, dan juga bisa menjadi tips bagi Anda jika ingin membeli bibit jamur.

Bibit F2 usia 3hari, 8hari, dan 15 hari


Sebaiknya jika membeli bibit, jangan yang kondisi sudah penuh, karena kita tidak tahu sudah berapa lama miselia tersebut penuh. Lebih baik bagi kita jika harus membeli bibit, yang kondisi rata-rata 70% atau 80% saja.




Kebersihan atau sterilnya ruang inokulasi

Ini sangat penting, karena bisa jadi semua bibit sudah memiliki kualitas baik, tetapi karena ruang inokulasi kurang steril, malah bisa menyebabkan kegagalan. Karena itu baju yang kita gunakan pun sebaiknya baju khusus yang bersih, sebelum masuk ruang inokulasi, kita harus menyemprotkan tangan, kaki, baju kita dengan alkohol 70%. Dan dalam melakukan inokulasi, api pada bunzen juga harus diletakkan dekat dengan baglog untuk memastikan sterilisasinya.








Kegagalan dalam budidaya jamur tiram
Saturday, October 30, 2010 3:53 PM
Dalam pembuatan baglog jamur tiram, seringkali timbul yellow spot, green spot, gagal menumbuhkan miselium, perkembangan miselium lambat, baglog membusuk, dsb.


Kegagalan ini sebenarnya disebabkan oleh berbagai macam faktor, memang faktor kegagalan ini harus juga diperhitungkan agar kita siap dalam mengantisipasinya.


Seringkali faktor sterilisasi media dianggap sebagai satu-satunya sebab dalam kegagalan.

Padahal proses sterilisasi media hanya merupakan salah satu penyebab saja. Dalam berbagai analisa rekan-rekan, literatur, pengalaman, faktor-faktor kegagalan ini dapat disebabkan berbagai macam sebab. Posting kali ini mencoba sedikit menganalisa sebab-sebab tersebut dan sedikit antisipasinya.
Jika dari sahabat dan rekan-rekan memiliki pengalaman yang lain kami mohon kritik, saran, dan tentunya feedback nya agar juga menambahkan posting ini.

Faktor dari serbuk kayu yang digunakan
Media kayu adalah media utama dalam penumbuhan jamur ini. Jadi sangat penting untuk memperhatikan jenis serbuk kayu yang digunakan. Hendaknya untuk mempermudah budidaya, jenis kayu yang digunakan homogen atau tidak bercampur. Ini berpengaruh dalam lamanya waktu pengomposan dan juga tentunya perkembangan miselium. Untuk wilayah di pulau jawa, paling mudah menggunakan jenis kayu sengon laut. Pencampuran dengan jenis lainnya boleh dilakukan tetapi hendaknya 80% bersifat homogen.Seringkali kegagalan timbul karena pencampuran ini tidak terkontrol, apalagi tercampur dengan jenis kayu yang bergetah seperti kayu pinus, damar, cemara, dan sebagainya.
Penting juga untuk memperhatikan apakah dari penggergajian kayu, serbuk gergaji tersebut terkena tumpahan oli atau tidak, karena sangat beresiko jika digunakan dalam budidaya




Faktor PH

Dalam pencampuran media baglog, tingkat PH dari serbuk gergaji harus diperhatikan dengan benar di kisaran 7. PH yang terlalu basa (poin 7 keatas hingga 8) akan menyebabkan kegagalan. Karena faktor PH ini lah, dalam budidaya diperlukan pengomposan. Metoda pengomposan dari masing-masing pebudidaya memang lain-lain, tapi tujuannya satu yaitu menurunkan PH serbuk gergajian. Metoda itu antara lain:


*
Setelah mencampur, dibiarkan semalam, lalu baru dimasukkan ke dalam kantong baglog
*
Dengan mencampurkan EM4 untuk mempercepat pengomposan
*
Mencampur serbuk gergajian dengan kapur lalu dibiarkan minimal 3 minggu untuk pengomposannya.


Penting sekali untuk memeriksa kondisi PH ini sebelum dimasukkan ke dalam kantong. Pemeriksaan bisa dengan PH meter atau kertas lagmus. Ada pengalaman dari rekan-rekan, jika PH masih di kisaran 7,5 - 8, campuran diberi sedikit campuran air cuka.. lalu diperiksa kembali, setelah PH di sekitar 7, baru dimasukkan ke dalam kantong.




Faktor AIR

Dalam menambahkan kadar air, seringkali kita memang tidak memeriksa air yang digunakan. Ada yang menggunakan air sumur, air PDAM, atau malah air kali biasa. Kandungan kimia pada air tersebut terkadang tidak kita ketahui, jika terdapat kandungan yang mungkin saja bisa menggagalkan dalam proses budidaya, hal ini tentunya tidak kita inginkan. Cara sederhana untuk mengatasinya adalah, air yang akan kita gunakan hendaknya diendapkan dahulu, bisa juga dengan mencampurkan arang untuk menetralisir dan memurnikan air.




Faktor campuran yang kurang baik

Kadar dari campuran memang bermacam-macam dari masing-masing pebudidaya, tetapi rata-rata menggunakan nutrisi sekitar 10%-15%, ada yang maksimal hingga 20% dari berat gergajian. Nutrisi yang kami maksud di sini adalah perbandingan bekatul atau jagung.

Pastikan bahan yang digunakan dalam campuran masih dalam kondisi segar dan baru, tentunya kualitasnya juga harus baik.

Penting sekali untuk segera melakukan sterilisasi setelah campuran dimasukkan ke dalam kantong baglog. Karena setelah dimasukkan ke dalam plastik, akan timbul gas fermentasi yang dapat melambatkan tingkat kecepatan tumbuh miselium nantinya, atau bahkan menghentikannya sama sekali.
Lihat posting tentang campuran baglog




Faktor sterilisasi

Nah.. faktor ini yang sering menjadi momok pada budidaya. Metodanya banyak sekali, ada yang menggunakan tong, ada yang menggunakan steamer beton, plat baja. Ada yang langsung dipanaskan, ada yang menggunakan boiler sebagai penghasil uap panasnya. Intinya cuma satu, bagaimana metoda yang digunakan tersebut dapat memanaskan media baglog hingga 100 derajat C dan mematikan semua bakteri yang ada. Sehingga baglog yang sudah steril tersebut dapat tumbuh miseliumnya setelah ditanamkan bibit di dalamnya.

Air yang digunakan dalam memanaskan baglog juga sebaiknya harus selalu baru dan bersih.
Lihat posting kami tentang sterilisasi baglog.




Faktor kesalahan dalam inokulasi

Dalam melakukan inokulasi bibit jamur tiram putih, kondisi baglog setelah melalui proses sterlilisasi harus memiliki suhu yang pas..

Suhu baglog yang masih terlalu panas dapat menyebabkan kegagalan, begitu juga sebaliknya, suhu yang sudah terlalu dingin juga dapat menimbulkan kegagalan.

Suhu yang baik kira-kira di kisaran 35-38 derajat C (masih hangat sedikit, tapi tidak panas)

Jangan pula misalnya sudah lebih dari 2 hari keluar dari steamer proses sterilisasi, baru dilakukan proses inokulasi, ini sudah terlalu dingin.
Indikasi faktor inokulasi berhasil dapat dilihat seperti foto di bawah ini, walau hanya baru 3 hari, perkembangan miselium sudah terpantau dengan menyebarnya pengapasan.






Faktor bibit jamur yang kurang baik

Bibit jamur tiram putih sangat penting sekali dalam menentukan tingkat keberhasilan dalam budidaya jamur tiram putih. Kualitas bibit ini sangat menentukan keberhasilan. Jangan menggunakan bibit yang sudah terlalu tua. Itu sebabnya sebaiknya jika membeli bibit, janganlah yang kondisi sudah 100% miseliumnya, karena kita sendiri tidak tahu sudah berapa lama umur bibit itu sendiri. Bibit yang sudah terlalu tua (apalagi sudah tumbuh jamurnya) kurang baik untuk digunakan. Bibit yang berumur masih muda memiliki kekuatan yang lebih baik.

Dalam membeli bibit sebaiknya dalam kondisi 70% atau 80% miseliumnya. Dan segera digunakan setelah miselium menyelimuti botol (100%). Jika masih tertunda penggunaannya, maksimal seminggu setelah miselium bibit mencapai 100% sudah harus digunakan.
Dalam pembuatan bibit juga perlu diperhatikan dengan baik sejak dari proses di PDA. Jika perkembangan miselium di PDA sangat tebal dan bagus, InsyaALLAH selanjutnya jika diturunkan ke F1 dan F2 akan bagus terus. Contoh PDA yang bagus seperti pada foto botol sebelah kiri.





Komposisi bibit

Ada baiknya kita juga tahu komposisi nutrisi dari bibit yang akan kita gunakan. Komposisi nutrisi pada bibit jamur tiram menentukan kualitas kekuatan miselium dalam perkembangan di baglog nantinya. Indikasi sederhananya dapat terlihat pada warna putih miselium di botol bibit. Jika putihnya berwarna sangat putih, ini mengindikasikan nutrisi nya baik, tapi jika warna putihnya hanya semu saja, ini mengindikasikan nutrisi yang digunakan kurang.



tampak foto miselium putihnya tebal
walaupun masih kondisi 20%

lihat posting tentang pembibitan jamur

Faktor kebersihan ruang inkubasi

Pada ruang inkubasi, faktor kebersihan, sirkulasi udara, kelembaban juga harus sangat diperhatikan. Bisa jadi semua faktor sudah terlewati dengan baik, dan perkembangan miselium juga baik, tetali karena ruang inkubasi kurang bersih, perkembangan miselium justruk menjadi lambat dan malah terhenti sama sekali. Ada baiknya ruang inkubasi secara rutin dilakukan sterilisasi dengan menyemprotkan formalin 2% sebelum diisi baglog, ini untuk meyakinkan bersih dan sterilnya ruang inkubasi itu sendiri.



Mungkin masih ada beberapa faktor lagi yang terlewat bisa ditambahkan kemudian..




SPINNER dan AUTOCLAF READY STOCK
Sunday, March 13, 2011 6:23 AM
SPINNER DAN AUTOCLAF READY STOK

Download manual book spinner


SPINNER kapasitas 5kg dengan desain baru menggunakan tutup stainlessteel

Untuk lebih menunjang keamanan pada saat digunakan..


INFO HARI INI (12 maret 2011)
STATUS:
Ready

HARGA ..

SPINNER
KAP 5KG : Rp. 1.800.000,- /UNIT
dengan tambahan tutup stainlessteel

AUTOCLAF (SOLD)
KAP 30liter : Rp. 1.800.000,- /UNIT

CALL or SMS ke 0817384454 or 0341 - 7783243

Ayo.. BURUAAAN... kesempatan langka dan terbatas..

SPESIFIKASI MESIN SPINNER

* Bahan Stainless steel 1,3mm
* Kapasitas 5kg
* Menggunakan listrik dengan daya 450W
* Daya mesin 1/4HP
* DIMENSI 60cm x 45 cm x 53 cm
* Keranjang bahan : vorporasi SS

Kegunaan :

* Mengurangi dan menghilangkan kandungan minyak goreng
* Makanan seperti kripik bisa lebih renyah dan tahan lama
* Makanan lebih sehat karena kandungan kolesterol pada minyak goreng sudah dikurangi

Dapat diaplikasikan untuk kripik jamur, kripik buah, tempura, krupuk, kacang, kue goreng.

tertarik memesan..?

email kami

Satriadafi@gmail.com

Fithrawan76@yahoo.co.id

Cara Order:

1. Emailkan / SMS kami Nama lengkap, alamat pengiriman, alamat email
2. Kami akan konfirmasi harga alat dan harga pengiriman. detil pembuatan alat dan prediksi waktu hingga alat dikirimkan ke alamat Anda.
3. Biaya bisa ditransfer ke BCA: 315 024 1498 an Fithrawan Satriyanto
4. atau ke Bank MANDIRI: 144 000 9770170 an Fithrawan Satriyanto
5. Konfirmasikan transfer ke 0817384454 atau ke email satriadafi@gmail.com


Spinner langsung dikirim ke alamat Anda
Harga pengiriman per unit:

Surabaya + Rp. 30.000,-
Jakarta + Rp. 80.000,-
Bandung + Rp. 80.000,-
Bogor + Rp. 80.000,-
Jogja + Rp. 70.000,-

Kota-kota di Kalimantan dan Sulawesi dan Sumatera : email konfirmasi, kami akan menghubungi Anda..
korelasi antara sterilisasi dan pemberian nutrisi baik pada bibit jamur maupun pada baglog jamur
Friday, May 14, 2010 6:09 AM
Pada posting sebelumnya sudah dibahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas baglog jamur tiram putih. Salah satu faktornya adalah kadar nutrisi yang diberikan dalam hal ini jumlah bekatul.

Dalam beberapa referensi yang telah diberikan sebelumnya, kadar nutrisi bekatul berkisar antara 10%-15%. Tetapi ada juga yang memberikan hingga 20%.

Sebenarnya apa pengaruh pemberian kadar nutrisi ini pada baglog dan bagaimana resikonya..?



Sebelum membahas ini, perlu diberikan beberapa keterangan sebagai berikut:

Nutrisi pada baglog adalah campuran kandungan yang mengandung kadar selulosa yang diperlukan oleh perkembangan miselia pada awalnya. Dengan demikian yang termasuk kandungan nutrisi adalah jika kita menambahkan zat-zat berikut pada campuran baglog:

1. Bekatul

2. Tepung jagung

3. Tepung ketela

4. Gula

5. Tepung kedelai

6. dan sebagainya yaa..

Nah.. pada umumnya yang sering dipakai adalah bekatul, tepung jagung, dan gula karena mudah didapatkan dan harganya relatif ekonomis.

Dari bermacam nutrisi tersebut, perlu diperhatikan adlah tingkat kekuatan dari nutrisi, kalau harus diberikan peringkat urutannya adalah gula, tepung jagung, bekatul, tepung ketela, tepung kedelai. Tingkat kekuatan ini perpengaruh dalam pemberian kadarnya.



Sebagai contoh, jika kita berniat memberikan kadar nutrisi 10%, maka yang harus diberikan sebaiknya sebagai berikut:

3% tepung jagung 7% bekatul

atau

1% gula 9% bekatul



Jika kita berencana memberikan kadar nutrisi hingga 15%, maka yang harus diberikan sebaiknya adalah sebagai berikut:

5% tepung jagung 10% bekatul

atau

2% gula 13% bekatul



Jadi kesimpulannya pemberian nutrisi adalah akumulasi/jumlah dari nutrisi yang ada bukan sendiri-sendiri.



Trus bagaimana dengan pemberian nutrisi hingga 20% dan apa pengaruhnya..? Apakah bisa memberikan hasil jamur lebih..?



Dari referensi FAO disebutkan:

"Untuk daerah tertentu yang ber hawa dingin, memang memungkinkan untuk memberikan nutrisi hingga 20%, tetapi untuk daerah yang memiliki hawa panas, pemberian nutrisi yang banyak akan beresiko lebih"



Sepanjang pengamatan dan pengalaman kami, justru kunci dari pemberian nutrisi ini adalah pada proses sterilisasi media. Jika dalam proses sterilisasi dapat mencapai suhu media 100 derajat C atau lebih dan dipertahankan hingga 4 jam (yakin matang), maka pemberian nutrisi yang banyak masih memungkinkan untuk dilakukan.

Tetapi jika proses sterilisasi hanya berdasarkan perasaan (tidak ada termometer untuk mengukur suhu media) maka sebaiknya jangan memberikan nutrisi lebih dari 15%, sebaiknya hanya sekitar 10%-12% saja.



Resiko pemberian nutrisi banyak jika proses sterilisasi kurang matang tampak pada gampangnya terjadi kontaminasi. Pada pemberian jagung, kontaminasi ini akan tampak langsung yaitu warna hijau yang melebar dengan cepat pada sisi jagungnya. Oleh sebab ini kami sendiri jarang memberikan tepung jagung pada campuran baglog. Untuk kami maksimal kami beri 17% bekatul dan 2% gula tanpa jagung.



Pada pembuatan bibit F2, korelasi pemberian kadar nutrisi dengan sterilisasi ini juga tampak. Jika nutrisi yang diberikan perbandingannya 1 jagung 2 bekatul 9 serbuk gergaji, autoclaf cukup di setting pada 1,5BAR selama 45 menit.

Tetapi jika menggunakan perbandingan 1 jagung 2 bekatul 3 serbuk gergaji, autoclaf harus di setting pada 2,5BAR selama kurang lebih 70 menit, jika tidak, banyak terjadi kontaminasi.



Bagaimana pengamatan langsung bahwa baglog atau bibit itu cukup matang pada proses sterilisasinya..?

Jika benar-benar matang, pertumbuhan miselium akan teramati dengan cepat dan putih baik.

Jika kurang matang, pertumbuhan miselium agak lambat, kurang merata, blank, dan kurang putih atau hanya semu coklat saja.. walau akhirnya memutih.


Mencermati faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas baglog jamur tiram putih
Monday, April 26, 2010 12:03 AM
Selalu saja yang menjadi pertanyaan, berapa kg jamur yang dapat dipanen dalam satu baglog jamur tiram putih?



Pertanyaan ini sulit untuk dijawab dengan pasti, karena banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dari baglog jamur tiram putih. Kualitas baglog dalam hal ini adalah kuantitas jamur yang dapat dipanen dari baglog itu.



Sepanjang pengetahuan kami, ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain:




1. Kadar atau nutrisi baglog

Banyak sekali referensi mengenai kandungan nutrisi yang dicampurkan dalam serbuk gergaji. Yang sering kami gunakan adalah :

100 kg serbuk gergaji

10kg - 20kg bekatul

1kg calsium carbonate

1kg gula


Penggunaan nutrisi ini juga masih bisa dimodifikasi dengan menggunakan tepung jagung, kedelai, singkong, dan sebagainya.

Mengenai jumlah prosentasenya juga beragam. Tetapi memang menurut FAO jumlah kadar 20% adalah kadar maksimal tetapi beresiko tinggi terhadap kontaminasi jika proses sterilisasinya kurang panas.


Fungsi bekatul / tepung jagung yang kami amati adalah untuk pertumbuhan miselium awalnya. Jika kualitas bekatul baik (kandungan beras berbanding sekam tinggi) tampak miselium putih sempurna dan memanjang dengan cepat.

Jika kandungan nutrisi kurang atau kualitas nutrisi tidak baik, pertumbuhan miselium cenderung lambat, dan tidak putih sempurna (walau akhirnya putih juga sih..). Kami sendiri pernah mengalami pengalaman buruk, ketika membeli bekatul tidak memeriksa dulu, ternyata kualitasnya jelek, kandungan sekamnya tinggi beras sedikit, akhirnya kualitas baglog pun jadi jelek, miselium tumbuh lambat, bahkan banyak yang mati..
lha gimana nggak.. akhirnya kandungan cuma serbuk gergaji dan sekam karena kadar berasnya dikit..

Nah.. pertumbuhan miselium yang baik akan berpengaruh terhadap produksi jamur nantinya..




2. Kualitas bibit (F2)

Untuk menyamakan persepsi kami menyebut PDA dengan F0, kemudian turunannya pada media jagung adalah F1, kemudian turunannya dengan media gergajian adalah F2.

Campuran F2 yang biasa kami gunakan adalah perbandingan 1 jagung 2 bekatul 3 gergajian. Bekatul yang kami gunakan pun yang harga tinggi (kandungan beras tinggi harga 2200 /kg).

Dalam pembuatan bibit, kami bilang kalau dengan media jagung, itu berarti media "murni" jika sudah ada gergajian, maka itu adalah media campuran.
Penggunaan jagung inilah yang memacu pertumbuhan miselium dengan cepat. Ini tampak jika kita memainkan kadar jagung. Pertumbuhan miselium teramati cepatnya pada kadar ini..

Kualitas bibit F2 yang ditanamkan ke baglog akan teramati jika baik, maka akan cepat memutih, selanjutnya pertumbuhan miselium pun akan cepat




3. Jenis serbuk kayu yang digunakan

Untuk budidaya, bisa menggunakan kayu sengon laut, mahoni, mindi, kayu nangka, kayu kembang, kayu albasiah, kayu meranti dan sebagainya. POKONYA BUKAN KAYU CEMARA, DAMAR, PINUS.

Nah.. pemilihan jenis kayu ini pengaruhnya pada berat jenisnya. Disarankan menggunakan kayu yang tidak mudah lapuk (kayu randu bisa digunakan tapi mudah lapuk, akhirnya jamur yang dihasilkan sedikit).

Jenis kayu yang lebih keras tentunya akan menghasilkan jamur lebih banyak. Tetapi di sini sulitnya, pebudidaya tidak selalu mendapatkan jenis serbuk gergaji yang homogen, seringnya campuran.


Ini pengalaman aja yaa..:


* Ketika menggunakan kayu sengon laut, kami pernah mendapat 390gram /baglog untuk ukuran baglog rata-rata 1,4 kg an.
* Ketika menggunakan kayu mahoni, kami pernah mendapat 450gram /baglog untuk ukuran balgog rata-rata 1,4kg an juga.



Padahal kualitas campuran nutrisi sama percis.., akhirnya kami berkesimpulan, tidak bisa menjastifikasi kualitas baglog dari satu faktor saja.. faktor pemilihan jenis serbuk gergajian kayu yang digunakan juga berpengaruh besar..




4. Kadar air dalam baglog
Kandungan kadar air dalam baglog menurut teori adalah 65%-75%. Pengukuran kadar air ini sulit dilakukan, biasanya hanyalah berdasarkan perasaan atau pengalaman saja. Indikasinya jika digenggam menggumpal tetapi tidak terlalu basah, itulah kadar air optimalnya.. lha tapi sulit sekali menganalisa kalau hanya berdasarkan ini..
Kadar air dalam baglog ini sangat berpengaruh dalam pertumbuhan jamur tiram nantinya. Jika kadar air kurang, maka pertumbuhan jamur tiram tidak akan bisa optimal.
Tetapi jika kadar air berlebih, baglog akan cepat membusuk, bahkan timbul ulat. Bahkan lagi bisa menghambat pertumbuhan miselia.
Jadi kadar air harus pas dan optimal. TErkadang untuk mengejar bobot, kadar air ditambah, ini juga malah tidak baik bagi kualitas baglog itu sendiri.

5. Berat baglog atau volume baglog
Produksi jamur tiram nantinya akan tergantung pada kuantitas/volume serbuk gergaji dalam baglog. Karena jamur adalah saprofit yang memakan sisa tumbuhan yang telah mati. Jadi semakin banyak volume atau bobot serbuk gergaji yang ada di dalam baglog, semakin banyak pula kemungkinan jamur yang dapat dipanen nantinya. Hal ini berhubungan langsung dengan BER (biological efficiency ratio) nya. Itulah sebabnya jika menggunakan plastik 18x35, untuk mengejar volume yang banyak, akhirnya diperlukan mesin atau alat pemadat, agar jumlah serbuk gergaji dapat tertampung lebih banyak.
Jika tidak, memang disarankan menggunakan plastik yang lebih besar, hingga bobot dan volume baglog bisa lebih banyak..
Artinya.., InsyaALLAH jika biaya yang dikeluarkan sama, menggunakan kadar bekatul 12% pada serbuk gergaji yang dimasukkan ke dalam baglog besar ukuran 2kg, hasilnya lebih banyak dibandingkan menggunakan kadar bekatul 20% tetapi pada baglog ukuran 1,5kg saja.
Kadar bekatul nantinya hanya berpengaruh pada pertumbuhan miselium, tetapi pada pertumbuhan jamur, volume dan bobot serbuk gergaji yang mempengaruhi.

6. Perawatan baglog pada masa produksi
Kalau ini kami sarankan membaca-baca artikel kami tentang tatacara perawatan baglog jamur tiram putih.
Perawatan/care yang diberikan petani pada kumbungnya, pada baglog jamurnya sangat berpengaruh pada kuantitas hasil panen jamur. Perawatan yang optimal, mengawasi, membersihakan, mengatur sirkulasi, tentunya akan menghasilkan jamur lebih daripada yang hanya sekedar ditaruh saja dan mengharapkan hasil panen yang optimal..


Ready Stock SPINNER agar Usaha Kripik Jamur / Kripik ANDA lebih SUKSES..!!
Sunday, March 13, 2011 6:26 AM
SPINNER sold out...!!!!

Kapasitas 3kg (kiri) dan 5kg (kanan)

SPINNER, MESIN PENIRIS MINYAK KAPASITAS 5KG..

INFO HARI INI (5 MEI 2010)
STATUS:
terjual
(masih produksi InsyaALLAH jumat ready stok)

HARGA ..

KAP 5KG : Rp. 1.900.000,- /UNIT
KAP 3KG : Rp. 1.650.000,- /UNIT

CALL or SMS ke 0817384454 or 0341 - 7783243

Ayo.. BURUAAAN... kesempatan langka dan terbatas..

SPESIFIKASI MESIN SPINNER

* Bahan Stainless steel
* Kapasitas 5kg
* Menggunakan listrik dengan daya 450W
* Daya mesin 1/4HP
* DIMENSI 60cm x 45 cm x 53 cm
* Keranjang bahan : vorporasi SS

Kegunaan :

* Mengurangi dan menghilangkan kandungan minyak goreng
* Makanan seperti kripik bisa lebih renyah dan tahan lama
* Makanan lebih sehat karena kandungan kolesterol pada minyak goreng sudah dikurangi

Dapat diaplikasikan untuk kripik jamur, kripik buah, tempura, krupuk, kacang, kue goreng.

tertarik memesan..?

email kami

Satriadafi@gmail.com

Fithrawan76@yahoo.co.id

Cara Order:

1. Emailkan / SMS kami Nama lengkap, alamat pengiriman, alamat email
2. Kami akan konfirmasi harga alat dan harga pengiriman. detil pembuatan alat dan prediksi waktu hingga alat dikirimkan ke alamat Anda.
3. Biaya bisa ditransfer ke BCA: 315 024 1498 an Fithrawan Satriyanto
4. atau ke Bank MANDIRI: 144 000 9770170 an Fithrawan Satriyanto
5. Konfirmasikan transfer ke 0817384454 atau ke email satriadafi@gmail.com


download demo spinner

VIDEO SPINNER



Spinner langsung dikirim ke alamat Anda
Harga pengiriman per unit:

Surabaya + Rp. 30.000,-
Jakarta + Rp. 80.000,-
Bandung + Rp. 80.000,-
Bogor + Rp. 100.000,-
Jogja + Rp. 70.000,-

Kota-kota di Kalimantan dan Sulawesi dan Sumatera : email konfirmasi, kami akan menghubungi Anda..


Mempelajari pola pertumbuhan jamur tiram
Wednesday, April 14, 2010 6:30 AM
Posting ini sebenarnya khusus untuk menjawab banyaknya pertanyaan mengenai strategi panen yang diharapkan bisa menghasilkan jumlah panen yang stabil.

Stabilitas dalam kuantitas panen jamur tiram sangat diperlukan agar selalu dapat memasok jamur ke pelanggan.. agar pelanggan ngga lari tentunya..




Sebuah pertanyaan sederhana yang membutuhkan jawaban panjang dari hasil pendalaman literatur yang kemudian kami terapkan dalam sebuah penelitian kecil yang sederhana.. Penelitian dari orang bodoh yang tidak menggunakan kaidah-kaidah dasar metoda penelitian ini diharapkan dapat sedikit memberikan gambaran bagaimana mengatur pembukaan cincin dapat menghasilkan stabilitas panen.




Sebelumnya mari kita kaji literatur yang kami dapatkan dari FAO berikut ini:



Untuk Oyster Mushroom (jamur tiram), incubation period adalah 4 minggu. Lalu masa produksinya adalah :

Petikan/panen pertama = 5 minggu

Petikan/panen kedua = 8 minggu

Petikan/panen ketiga = 11 minggu

Petikan/panen keempat = 15 minggu

Petikan/panen kelima = 20 minggu


Sebagai catatan :

Production time is the number of weeks following inoculation. This will depend on the season and to the amount of care given by farmers..

alias:

Waktu produksi adalah jumlah minggu termasuk inokulasi. Ini masih sangat tergantung kondisi cuaca dan kualitas perawatan dari petani jamur.




Dengan literatur ini mungkin bisa menjawab pertanyaan.. apakah bisa produksi jamur tiram dipercepat menjadi 2 bulan saja..?
Jawabannya.. sementara ini masih belum mungkin.. karena jamur memerlukan waktu atau jarak antara panen pertama ke panen kedua ketiga dan seterusnya..




Ok.., untuk melihat itu mari kita perhatikan foto-foto berikut. Foto ini sedikit menjelaskan saat awal produksi mulai dari pembukaan cincin hingga panen..




Pembukaan cincin dilakukan tanggal 3 maret, selanjutnya setiap pagi dilakukan raising yaitu pengejutan dengan menurunkan suhu, menyiram kumbung di pagi hari dan baglognya sedikit dengan spray halus


Pada tanggal 11 maret, atau sekitar satu pekan dari pembukaan cincin, mulai muncul pin head atau bakal buah jamur tiram putih.



Pada tanggal 15 maret, atau 4 hari kemudian dimulailah produksi jamur tiram putih.


Tanggal 23 maret atau sekitar satu pekan kemudian, terjadilah puncak panen jamur tiram..




Sederhananya:

Buka cincin --> 7 hari muncul pin head --> 4 hari mulai panen --> 7 hari panen puncak.



Itu adalah waktu yang dibutuhkan jamur tiram.

Sekarang yang menjadi persoalan, jika kita memiliki baglog dalam jumlah tertentu (1000 baglog misalnya) bagaimanakah karakteristik panennya..?

Apakah langsung seluruhnya panen..?




Kami melakukan pengamatan dengan menghitung jumlah baglog yang panen pada 55 hari pertama masa produksi. Pengamatan kami lakukan pada kumbung dengan kapasitas 9000 baglog. Dari sejumlah baglog tersebut, kami lakukan jarak pembukaan cincin baglog yang berbeda untuk kemudian diamati pola pertumbuhannya.
Berikut ini adalah hasilnya:




Grafik berikut adalah pola pertumbuhan pada grup pembukaan kedua sejumlah 1523 baglog dan grup pembukaan ketiga sejumlah 1444 baglog. Jarak pembukaan pertama dan kedua hanya 3 hari.



Grafik berikut adalah pola pertumbuhan pada grup pembukaan ke empat ( 5 hari dari pembukaan kedua)



Grafik berikut adalah pola pertumbuhan pada grup pembukaan ke lima (10 hari dari pembukaan kedua)



Grafik berikut adalah pola pertumbuhan pada grup pembukaan keenam (12 hari dari pembukaan kedua)




Grafik berikut adalah gabungan dari jumlah baglog yang panen:




Kesimpulan yang dapat kita ambil dari grafik tersebut adalah :




* Pola pertumbuhan jamur tiram pada 55 hari pertama ternyata menunjukkan kesamaan yaitu membentuk kurva naik turun dan naik lagi.
* Pola grafik menunjukkan bahwa terjadi 3 kali panen pada 55 hari pertama. Jadi jika dihitung termasuk masa inkubasi, menjadi sekitar 85 hari atau sekitar 12 minggu. Ini berarti literatur dari FAO yang menyebutkan 11 minggu tadi sudah hampir sama dengan pengamatan kami.
* Pada satu grup pembukaan (misal 1523 baglog pada pembukaan ke dua) Pola pertumbuhan membentuk kurva yang menunjukkan masa produksi panen pertama sekitar 15 hari. Jadi dari sejumlah 1523 baglog tersebut tidak panen langsung seluruhnya melainkan bergantian selama 15 hari. Puncak panen terjadi pada 7 hari setelah masa awal panen teramati. Ini sesuai sekali dengan foto yang tadi kami tunjukkan. Pada tgl 15 mulai awal panen, tanggal23 panen mencapai puncaknya.
* Pola masa produksi grup pembukaan 15 hari ini juga mirip pada panen kedua dan ketiga seperti yang ditunjukkan pada grafik tersebut.
* Jarak antara puncak panen pertama dan panen kedua dan panen ketiga kurang lebih sekitar 15-20 hari. Jadi bisa diamati, jika hari ini panen maksimal (banyak) maka InsyaALLAH sekitar 15-20 hari kemudian akan terjadi panen yang banyak pula.
* Berat panen pertama, kedua, ketiga akan selalu mengalami penurunan.
* Pada jarak pembukaan cincin yang kurang dari 1 minggu, maka pola pertumbuhan akan mirip atau tidak terlalu berpengaruh.
* Pada jarak pembukaan cincin sekitar 10-15 hari baru didapatkan perbedaan yang memberikan pola panen yang stabil. Tampak pada grafik gabungan, saat panen dari grup pembukaan kedua dan ketiga menurun, panen pada grup pembukaan ke lima dan ke enam justru pada puncaknya.
* Dengan mengatur jarak pembukaan baglog per grup sekitar 1 minggu diharapkan dapat menghasilkan stabilitas panen yang baik


Berikut ini adalah grafik hasil panen dalam kg dengan pengaturan pembukaan cincin baglog. Mungkin masih dapat disempurnakan lagi. Tetapi dengan begitu masih bisa didapatkan stabilitas. Pada 3 bulan masa produksi, hasil masih rata-rata 30kg - 50kg per hari




Dari semua itu hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :


* Pola yang diamati khusus pada jamur tiram putih
* Pola yang diamati tersebut masih sangat tergantung dengan kondisi cuaca, suhu, dan kelembaban




Yang menjadi kata kunci penting dalam pertumbuhan jamur tiram adalah:

Jamur memerlukan oksigen sebagai pemacu pertumbuhan, namun jamur juga membutuhkan kelembaban yang optimal agar bisa tumbuh dengan baik.


Dua kondisi ini sering merupakan kontradiksi, banyaknya oksigen/udara yang masuk ke kumbung dapat menyebabkan kondisi kelembaban kumbung turun. Namun untuk menjaga kelembaban diperlukan kumbung yang tertutup. Jadi memang petani harus sabar melakukan kondisi buka tutup jendela kumbung dengan disertai memperhatikan terus kondisi kelembaban optimal yang bisa menjaga kuantitas panen.










Penggunaan boiler agar sterilisasi baglog jamur tiram murah, efisien, dan sempurna
Wednesday, April 21, 2010 9:08 PM
Pada proses sterilisasi baglog jamur tiram putih, metoda yang terbanyak digunakan adalah dengan mengkukus atau diberi steam (uap panas) hingga suhu media mencapai 100 derajat C. Setelah suhu media tercapai, kondisi ini hendaknya dipertahankan hingga 4 jam untuk menjamin panas uap telah membunuh semua bakteri yang ada.




Pengukusan baglog dapat dilakukan dengan :


* Mengukus langsung dengan menggunakan tong
* Mengukus langsung ke dalam steamer dengan pemasan tong seperti foto di bawah ini namun sistem ini sekarang kurang efektif karena memerlukan bahan bakar yang cukup banyak dan memerlukan waktu yang cukup lama, hingga 12-15jam.
*



* Menggunakan boiler sebagai alat penghasil uap untuk dialirkan ke steamer. Dalam posting kali ini memang akan dibahas khusus secara sederhana dan singkat mengenai masalah ini.




Penggunaan boiler ini memiliki berbagai keuntungan:


* Uap panas yang dihasilkan memiliki tekanan yang tinggi
* Pemanasan di dalam steamer hanya membutuhkan waktu yang singkat
* Memperbesar tingkat keberhasilan dalam proses sterilisasi
* Efektif dalam penggunaan bahan bakar. Dengan skema yang akan dibahas ini, menurut pengalaman kami, menggunakan tong dengan kapasitas sekitar 200 liter, boiler mampu mensterilisasi sekitar 1200 baglog media jamur dalam waktu kurang lebih 8-9jam, dan hanya mengabiskan 1,5 tabung LPG ukuran 12kg. Subhanallah.. berarti jika harga LPG adalah Rp.80.000,- berarti biaya pembelian LPG = Rp. 120.000,-. Jika mampu mensterilisasi 1200 baglog, biaya per baglog untuk proses sterilisasi adalah Rp.120.000 /1200 = hanya Rp.100,- saja.




Trus... bagaimana konstruksi dari boiler itu...???? Berikut sedikit informasinya:




Sebelumnya mari kita diskusikan apa yang dimaksudkan dengan boiler.

Boiler adalah sebuah bejana tertutup dimana panas pembakaran dialirkan ke air hingga terbentuk sebuah uap panas atau steam.
Air panas atau steam yang dihasilkan ini pada tekanan tertentu digunakan untuk mengalirkan panas ke sebuah proses, yang disini kita manfaatkan untuk proses sterlisasi media baglog jamur tiram putih.




Yang perlu diperhatikan di sini adalah, setelah air panas diubah menjadi steam (uap panas) volumenya akan berubah menjadi 1600 kali, tenaga yang dihasilkan pun bisa menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak.. Nah.. untuk itu penggunaan boiler dan pemilihan jenis bahan untuk membuat boiler perlu diperhatikan dengan baik, karena menyangkut keamanan.




Jenis boiler yang umumnya dibuat untuk industri ini adalah :


Fire tube boiler

Yaitu dengan sistem panas dari api pemanasan melalui sebuah tube atau pipa-pipa selanjutnya air umpan berada di dalam sebuah shell atau bejana diubah menjadi steam.

Fire tube boiler ini biasa digunakan untuk kapasitas steam yang relatif kecil dengan tekanan uap (steam) yang sedang sampai besar. Fire tube boiler ini cukup efektif untuk kecepatan steam 12.000 kg/jam dengan tekanan hingga 18 kg/cm2.

Sistem fire tube boiler ini konstruksinya bisa di gunakan dalam pembuatan boiler sederhana untuk dimanfaatkan dalam sterilisasi media baglog jamur tiram.




Water tube boiler

Air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa masuk ke dalam drum. Air yang tersirkulasi ini kemudian dipanaskan oleh gas pembakar dan terbentuklah steam dalam daerah uap di drum. Boiler ini dipilih jika kebutuhan steam dan tenaga steam sangat tinggi seperti pada pembangkit tenaga.




Ilustrasi skemanya pada gambar berikut:

Terus bagaimana untuk konstruksi boiler yang efektif bagi sterilisasi media baglog jamur tiram?

Konstruksi yang di pilih bisa merupakan pemanfaatan skema fire tube boiler atau water tube boiler. Kapasitas air dan uap pada bejana sederhana umumnya sekitar 200 liter. Konstruksi yang dipilih bisa menggunakan plat baja atau tong sederhana.




Berikut ini salah satu skema sederhana dari boiler yang dimanfaatkan untuk menghasilkan uap panas yang dialirkan ke dalam steamer :



pembuatan boiler sesuai skema di atas






Boiler dengan modifikasi skema di atas dan
menggunakan bahan bakar kayu bakar saja

Yang perlu diperhatikan adalah :


* Periksa betul ketebalan tong yang digunakan, sebaiknya gunakan yang cukup tebal.
* Bejana di dalam boiler bisa menggunakan plat baja atau juga tong, bentuknya bisa menyerupai tabung juga dan di atasnya terdapat pipa baja 3".



* Pada bagian pipa sirkulasi yang terdapat dalam boiler berguna untuk mengalirkan air yang dipanaskan oleh gas pembakar dipasang rapat secara zigzag dengan tujuan masing-masing pipa mendapatkan panas yang merata dari api kompor.



* Gunakan pipa galvanis dengan ketebalan cukup
* Perhatikan dengan benar posisi level air jangan sampai melebihi batas lower, karena tenaga boiler bisa sangat besar dan dikhawatirkan meledak.
* Walaupun penggunaan tong lebih murah (paling hanya habis 2juta an) tetapi disarankan tetap menggunakan bahan plat baja atau stainlesssteel agar lebih aman dan tanah lama.


Untuk skema boiler yang menggunakan fire tube boiler, skemanya seperti berikut ini:

*
o

Untuk fire tube boiler ini yang digunakan adalah plat baja setebal 4mm, sehingga biaya pembuatannya agak mahal. Skema ini memerlukan pemanasan api yang diberi blower yang bertujuan untuk menyalurkan api lebih sempurna ke dalam pipa pengumpan panas.







Steamer beton untuk sterilisasi media jamur tiram
Wednesday, April 07, 2010 7:45 AM
Dalam pembuatan steamer, bisa dipilih berbagai metoda, cara dan bahan. Ada yang menggunakan plat baja, pasangan bata, beton, ada juga yang campuran. Intinya adalah bagaimana bisa mempertahankan dan menyimpan uap panas sehingga dapat mensterilkan media baglog dengan baik dan sempurna.

Berikut sedikit gambaran pembuatan steamer dengan bahan beton dan pasangan bata.
Keuntungan penggunaan bahan ini adalah :

* Dapat menghemat ruangan dengan kapasitas baglog yang cukup banyak
* Seperti pada gambar ini adalah salah satu contoh saja desainnya, dengan ukuran 170x170x170cm sudah dapat memuat kurang lebih 1000 baglog jamur.
* Suhu sterilisasi dapat terjaga lebih lama daripada penggunaan drum atau plat baja. Beton dapat menyimpan panas uap steam lebih lama, sehingga proses sterilisasi bisa lebih sempurna. Pengalaman kami setelah suhu mencapai 100derajat C, dan proses steam kami hentikan, dalam 12 jam kemudian suhu masih di kisaran 80derajat C.
* Tingkat kegagalan baglog akibat kurang steril lebih kecil




Untuk membuat steamer, yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :


* Campuran beton dibuat standard K175 yaitu campuran 1:2:3 semen pasir kerikil
* Pasangan bata adalah seperti trasram PC 1:2
* Perlu diberi ikatan besi beton di antara tulangan kolom pada pasanga bata untuk menguatkan
* Plat beton penutup atap dibuat melengkung, ini dapat menghasilkan putaran uap yang baik dan lebih cepat menghasilkan uap panas steril
* Bagian bawah perlu diberi bak kontrol untuk pembuangan air hasil tetesan uap panas steam
* Perletakan pipa inlet steam kurang lebih pada 1/3 panjang steamer
* Perletakan termometer adalah pada kurang lebih 2/3 tinggi steamer
* Bagian dalam steamer diberi lapisan plat aluminium minimal tebal 1mm. Biasanya harga per lembar ukuran 100x200cm adalah Rp.60.000.
* Bagian pintu besi diberi karet yang cukup tebal sehingga bisa rapat.
* Bagian atas plat beton penutup diberi pipa untuk pembuangan uap.




Untuk lebih jelasnya mungkin dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini..:

tampak atas dan denahnya


tampak pada bagian potongan A-A


Tampak pada bagian B-B


Perletakan baglog di dalam steamer sebaiknya berdiri dan dibuatkan rangka besi sebagai raknya seperti yang tampak pada gambar berikut ini :



O ya hampir lupa.. sebagai catatan:
desain steamer tersebut langsung dibuat di lantai kerja dengan asumsi sistem steamnya tidak menggunakan sistem direct steam, tetapi menggunakan boiler untuk mengalirkan uap panas ke dalam steamer.
steamer dengan sistem angsung tanpa boiler.
Sistem ini sudah mulai ditinggalkan karena tidak efisien
dalam penggunaan bahan bakar

Tampak gambar boiler dari tong yang menghasilkan uap panas
untuk dialirkan ke dalam steamer

Ini juga salah satu contoh boiler yang mengalirkan
uap panas ke dalam steamer

Download desain steamer versi CAD

Perletakan kumbung menentukan banyaknya hasil panen jamur
Thursday, March 25, 2010 5:47 AM
Sebelum membuat kumbung ada baiknya kita melakukan berbagai survey untuk memperhatikan bagaimana kondisi lokasi yang kita pilih untuk dibangun kumbung/rumah jamur tiram.




Yang perlu diperhatikan adalah :


* Arah sirkulasi udara. Misal angin lebih banyak datang dari arah mana
* Ada tidaknya pencemaran udara di sekitar lokasi. Misal lokasi dekat dengan tempat yang menghasilkan banyak asap CO2. Hal ini penting karena jamur sangat rentan terhadap CO2. Jika banyak, maka jamur akan sulit untuk tumbuh.
* Apakah banyak bangunan yang mengapit lokasi? Ini juga berkaitan dengan sirkulasi udara.
* Kondisi suhu dan kelembaban. Suhu hendaknya tidak melebihi 30 derajat C. Walau jamur masih mampu untuk tumbuh, namun biasanya lebih tipis. Jadi kelembaban harus diusahakan tetap pada angka yang baik untuk kondisi pertumbuhan jamur.
* Sebaiknya di sekitar kumbung banyak terdapat pohon, atau tanaman yang rimbun. Karena oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan itu juga memicu pertumbuhan jamur




Berikut adalah contoh perletakan kumbung yang tidak direkomendasikan:

Biasanya karena ingin langsung berbisnis dengan skala tinggi di lokasi lahan yang terbatas, pebisnis langsung membangun 4 kumbung seperti gambar berikut:



Misalnya arah angin terbanyak adalah dari arah timur seperti ilustrasi tersebut, maka menurut pengalaman kami, hasil panen jamur yang baik hanya terjadi pada kumbung 2 dan kumbung 4 saja. Walaupun kualitas baglog sama dengan kondisi terbaik pun, hasil panen jamur pada kumbung 1 dan kumbung 3 tidak pernah baik dan selalu kurang dari target.


Misal jika kumbung sama-sama diisi 5000 baglog dengan kualitas baglog homogen, pada kumbung 2 dan kumbung 4 bisa menghasilkan 2000kg lebih, tetapi pada kumbung 1 dan kumbung 3 hanya menghasilkan antara 1400kg hingga maksimal 1650 kg saja.


Mengapa ini bisa terjadi??




Ternyata setelah diselidiki, arah sirkulasi udara terbanyak datang dari timur (karena angin lembah gunung). Jadi sirkulasi udara untuk kumbung 1 dan kumbung 3 tertutupi oleh kumbung 2 dan kumbung 4. Walaupun kumbung sudah dimodifikasi bagaimanapun dengan menambah jendela, tetapi hasil panen jamur tetap saja kurang.




Mungkin Anda semua tidak percaya, tetapi itulah yang terjadi

sehingga kami sarankan jika ingin membangun kumbung, buatlah seperti ilustrasi berikut:



Tampak pada gambar, kedua kumbung tersebut akan mendapatkan sirkulasi udara yang baik dari arah datangnya angin.




Lebih cantik lagi jika di sekitar kumbung diberi penghijauan berupa pohon atau tanaman yang rimbun. Dengan demikian InsyaALLAH akan memberikan support oksigen yang baik.




Dalam membangun kumbung, letakkan arah memanjang kumbung menghadap sirkulasi datangnya angin yang terbanyak. Jadi InsyaALLAH akan memicu pertumbuhan jamur pula..



Kami sadar, ini hanyalah pengalaman kami saja, tetapi mungkin bisa direkomendasikan kepada Anda semua yang ingin membangun kumbung, jangan nantinya menyesal di kemudian hari.

Jika lahan Anda terbatas, lebih baik mencari/menyewa di lahan yang lain saja. Semua itu bertujuan untuk memaksimalkan hasil panen jamur, sehingga Anda bisa mendapatkan hasil yang optimal.

InsyaALLAH..




O ya.., satu lagi.., mohon isi kumbung jangan diisi terlalu banyak..
Optimalnya sekitar 70 baglog per m2. Jadi misalnya untuk kumbung ukuran 6x12 m2= 72m2, maka isilah sebanyak 72 x 70 = 5000 baglog saja.

Ini untuk memberikan ruang yang cukup untuk "bernafas" bagi jamur. Sehingga pertumbuhannya bisa baik.
Menjual baglog jamur atau menjual jamur, mana yang lebih menguntungkan?
Wednesday, March 24, 2010 1:45 PM
Bagi yang sudah mampu memproduksi baglog jamur tiram akan menjadi keuntungan ganda. Bisa menjual baglog bisa juga tetap memproduksi baglog untuk kemudian menjual jamur tiramnya. Ini menjadi pilihan baginya.




Kenapa..?? Tanya kenapa..??




Lha iya tho.., dua bisnis ini bisa berjalan bersama, tapi juga bisa dipilih salah satunya, dan masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.



Mari kita bahas masing-masing, ini sok tahu saya aja lho yaa..:


Untuk yang memilih menjual baglog..:

Ini layak untuk pebudidaya yang mampu mengefisienkan biaya produksi semaksimal mungkin. Jika biaya produksi baglog sudah mencapai hanya Rp.1000,- atau Rp.1300,- per baglog, maka pebudidaya akan layak untuk berbisnis dengan menjual baglog.

Tetapi yang perlu diperhatikan adalah kualitas baglog dan juga kemampuan untuk memenuhi pelanggan baglog tiram putih sesuai jadual.


Kenapa jadual..?? Karena bagi yang berbisnis jamur tiram dengan membeli baglog, jadual (waktu) adalah pokok penting yang harus terpenuhi. Jika pemesanan baglog terlambat dari jadual, maka produksi mereka bisa mundur juga, ini beresiko tinggi karena bisa-bisa ditinggal oleh pelanggan jamurnya dan hitungan untuk break efen poin bisa ikut mundur.

Selain itu resiko tidak tumbuh baglog juga harus diperhatikan. Karena ini merupakan "tanggungan" dari produsen baglog.




Bagaimana keuntungannya..?




Keuntungan menjual baglog ini adalah keuntungan dapat berputar lebih cepat. Katakan harga jual baglog untuk wilayah kami sekitar Rp.1800/baglog, berarti jika biaya produksi sekitar Rp.1300,- ada keuntungan sekitar Rp.500,- per baglog (38,46%). Dan keuntungan ini InsyaALLAH dapat langsung didapat dalam 1 bulan ketika miselium sudah jalan sekitar kurang lebih 50%-60% untuk siap dijual.

Jadi jika mampu memproduksi 500 baglog saja per hari, berarti dalam 1 bulan (hari kerja normal) dapat memproduksi 13,000 baglog, yang berarti ada keuntungan bersih sekitar 6,5juta an per bulan.


Jika mampu lebih mengefisien kan biaya produksi hingga Rp.1000,- per baglog, keuntungan bisa berlipat hingga 10 juta an per bulan...

Subhanallah..

Sebuah nilai yang layak untuk diusahakan bukan..?




Untuk yang memilih tetap memakai sendiri baglognya dan yang dijual jamurnya

Pilihan ini adalah seperti yang kami ambil. Karena sebenarnya jual baglog, tetap saja produk utama yang dihasilkan adalah jamur tiramnya.

Ini juga karena kami sudah memiliki kumbung yang harus diisi dan memiliki pelanggan tetap jamur tiram yang harus selalu disupport. Pilihan ini sejatinya juga lebih banyak ber muamalah dengan orang. Contoh saja: kami selalu berhubungan dengan tenaga kerja yang membuat baglog, tenaga kerja yang merawat kumbung, tenaga kerja yang mengatur operasional, pelanggan yang bersifat reseller, pelanggan langsung, dan lain-lain. Istilahnya, silaturahimnya lebih buanyak gitu..
Jadi InsyaALLAH jika ikhlas ya pahalanya lebih banyak, tetapi jika ada "nakal" nya.., ya dosanya juga lebih.. hehe.



Pilihan ini juga kami ambil karena kami belum mampu meng efisien kan biaya produksi karena berbagai alasan. Seperti, maksimal kami hanya mampu memproduksi 2000 baglog seminggu dengan biaya produksi baglog sekitar Rp.1450,- /baglog.




Bagaimana keuntungannya..?




Katakan kami menjual jamur rata-rata di kisaran Rp. 8500,- dan per baglog mampu menghasilkan rata-rata 0,4kg, berarti nilainya = 0,4 xRp.8500 = Rp.3400,-

Dengan biaya produksi Rp.1450,- keuntungan yang didapat adalah = Rp.3400 - Rp.1450,- = Rp.1950,- atau 134,5% (dalam 4 bulan) atau sekitar 33,6% per bulannya. Hasil keuntungan itu kalau kami masih harus dibagi-bagi secara mudharabah dengan para investor.


Memang keuntungan di sini bersifat fluktuatif, bisa naik jika hasil jamur lebih dan harga jual lebih dari Rp.8500 /kg. Bisa juga turun jika hasil jamur kurang. Ya di situ romantika usahanya..




Kedua gambaran pilihan tadi hanya bersifat kasar saja tanpa memperhatikan banyak hal, namun bisa lah untuk hitung-hitungan awal..


Jika mampu berjalan bersama.. menjual baglog dan menjual jamur juga.. sungguh merupakan keuntungan ganda...




InsyaALLAH...


Biaya pembuatan baglog (bagian 2)
Tuesday, March 23, 2010 7:08 AM
Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja biasanya kami bagi menjadi pencampuran media, pengemasan baglog dan yang kedua adalah biaya inokulasi.


Untuk pembuatan, pengemasan baglog spesifikasi kerja meliputi:

- Pencampuran serbuk gergaji dengan bekatul, pengayakan, penambahan kadar air

- Pengisian campuran tadi ke dalam plastik baglog

- Pemadatan lalu diberi cincin.


Untuk spesifikasi kerja itu rata-rata satu tenaga kerja bisa menghasilkan 100 baglog untuk jam kerja normal yaitu 7 jam. Jika gaji per orang per hari Rp.30.000,- Maka biayanya = Rp.300 /baglog. Jika proses ini bisa secara mekanis menggunakan mesin misalnya untuk pencampuran memakai mixer dan pemadatan memakai mesin, maka pembuatan baglog bisa lebih banyak, mencapai 4x lipatnya. Jadi biaya pencampuran, pengemasan baglog bisa tinggal Rp. 75,- per baglog.




Untuk inokulasi, pada jam kerja normal (7 jam), satu orang tenaga kerja mampu menginokulasikan sekitar rata-rata 250 baglog. Jadi jika gajinya Rp.30.000,- per hari, biaya tenaga kerja= Rp. 120,- per baglog.



Sub total untuk biaya tenaga kerja adalah Rp. 420,- per baglog jika dikerjakan secara manual. Jika pekerja sudah benar-benar trampil, hasil bisa lebih banyak, jadi biaya per baglog bisa di efisienkan lagi hingga Rp.300,- per baglog.




Biaya Sterilisasi

Untuk sterilisasi media, beban biayanya sangat variatif dan tergantung volume baglog yang akan diproduksi. Seringkali pebudidaya mengkreasi sendiri sistem sterilisasinya agar biaya yang dikeluarkan bisa seefisien mungkin.


Berikut sedikit gambaran perbedaannya:




Sterilisasi menggunakan drum (maksimal 60 baglog /drum)

Jika satu kali proses memakai 4 drum dan menggunakan kompor gas/minyak untuk sterilisasi langsung, maka biayanya sangat tinggi. Maka dari itu sistem ini sudah sangat ditinggalkan. Jika menggunakan gas, maka diperlukan setidaknya 2 tabung LPG 12kg. Biaya menjadi Rp.150.000 untuk 240 baglog. Jadi per baglognya = Rp.625,-. Ini terlalu tinggi.



Ada yang menggunakan boiler, lalu uapnya dialirkan ke drum tadi. Dengan tenaga uap boiler ini mampu untuk di paralel ke 5 drum. Konsumsi gas hanya 1 tabung LPG 12kg, jadi biayanya Rp. 75.000,- untuk 300 baglog atau Rp.250,- per balgog.



Jika proses tadi menggunakan kayu bakar, maka memang bisa murah. Untuk sterilisasi 300 baglog hanya membutuhkan kurang dari 1m3 kayu bakar (beli per pikup seharga Rp.75.000 an). Jadi biaya rata-rata Rp. 250,- per baglog.




Sterilisasi menggunakan steamer beton (kapasitas 1000 baglog)

Keuntungan steamer beton adalah efektif dalam tempat dan pemanasan. Steamer masih mampu menjaga panas uap hingga 10 jam. Pengalaman kami, jika sudah mencapai suhu 100 derajat C, dan kompor kami matikan. Suhu itu masih bertahan 2 jam. Lalu setelah 10jam, masih di kisaran 80 derajat C.



Untuk steamer kapasitas 1000 baglog, diperlukan boiler kapasitas 200 liter. Konsumsi energi yang diperlukan kurang lebih 2 tabung gas LPG 12kg. Jadi biayanya Rp.150.000,- untuk 1000 baglog atau Rp.150,- per baglognya.




KESIMPULAN

Jika seluruh biaya direkapitulasi:

Biaya bahan pendukung dan bahan utama : Rp.1000 /baglog

Biaya tenaga kerja : Rp.420,-

Biaya steriliassi : Rp.250,-

Jadi total biaya = Rp. 1670,- per baglog




Jika untuk produksi massal dan mampu membuat bibit sendiri:

Biaya bahan pendukung dan bahan utama: Rp.900,-
Biaya tenaga kerja : Rp.200,-

Biaya sterilisasi : Rp.150,-

Jadi total biaya = Rp.1250,- per baglog bahkan lebih rendah lagi




Beban biaya ini masih bersifat variatif sekali tergantung masing-masing daerah dan kemampuan pebudidaya untuk melakukan inovasi yang bisa mengurangi biaya produksi.


Biaya pembuatan baglog (bagian 1)
Monday, March 22, 2010 6:11 AM
Posting ini hanya berdasarkan pengetahuan dari pengalaman kami yang sangat sedikit, jika memang di tempat lain terdapat perbedaan, mohon untuk disesuaikan saja. Bukan bermaksud menyudutkan petani/produsen baglog. Untuk apa..? Kami juga produsen baglog, tetapi kami tidak menjual baglog karena bagi kami lebih menguntungkan baglog hasil produksi kami dibuahkan dan yang dijual jamurnya.. bukan baglognya.




Hitungan yang akan kami sampaikan ini pun hanya menjadi salah satu referensi saja, semua harus disesuaikan dengan harga di masing-masing daerah. Ini hanya untuk memberikan gambaran berapa biaya produksi untuk membuat baglog.




Harga baglog bisa dibagi menjadi analisa bahan utama, bahan pendukung, dan tenaga kerja. Semuanya terintegrasi menjadi biaya satuan yang menghasilkan harga pokok produksi. Harga pokok produksi ini sangat tergantung volume atau banyaknya baglog yang akan diusahakan, karena tentunya semakin banyak, bisa merupakan produksi massal yang umumnya lebih murah biaya per satuan baglognya dibandingkan produksi yang lebih sedikit.




Sebagai referensi, berikut analisa biaya untuk baglog ukuran diameter 11cm tinggi 25cm yang memiliki berat rata-rata 1,5 kg:




Analisa bahan pendukung :


1. Plastik baglog

Plastik baglog yang digunakan bisa menggunakan plastik roll ukuran 0.05x18 yang dipotong per 35cm. Berarti untuk satu roll panjang 100m bisa menghasilkan 280 buah. Plastik kemudian di seal di salah satu ujungnya.

Biaya: Harga plastik per roll sekitar Rp.50.000,- Jadi biaya per peace plastik adalah Rp.50.000/280 yaitu Rp. 178,57- Jika dimasukkan biaya tenaga kerja untuk seal, Biaya bisa dibulatkan menjadi Rp.200/plastik.

Untuk mempermurah biaya plastik, bisa juga dengan memesan plastik baglog yang sudah jadi di pabrik. Menurut pengalaman kami, harga plastik pabrikasi yang sudah jadi ter seal, tinggal digunakan saja (diisi serbuk gergaji) harganya Rp.27.000,- /kg. Plastik tersebut jika dihitung sejumlah kurang lebih 190buah/kg. Berarti biayanya = Rp.27.000/190 = Rp. 142,- /plastik baglog (lebih efektif dan lebih murah)




2. Cincin baglog. Harga rata-rata = Rp.75 /buah




Bahan utama:


1. Serbuk gergaji.

Idealnya karena budidaya jamur adalah pemanfaatan limbah serbuk gergaji dari pemotongan kayu, seharusnya serbuk gergaji bisa gratis.. Tapi sekarang karena banyaknya pebudidaya, serbuk gergaji menjadi memiliki nilai ekonomis. Kemudian berapa harga keekonomisannya..? Pengalaman kami, lebih fair jika serbuk gergaji dibeli dengan ukuran kubikasi. Untuk wilayah kami, harga serbuk gerjadi rata-rata Rp.60.000 hingga Rp.70.000 per m3 nya. Menurut pengalaman kami, per m3 bisa menghasilkan rata-rata 280baglog hingga 300baglog, tergantung ukuran partikelnya. Serbuk gergaji yang lebih halus dapat menghasilkan baglog lebih banyak. Jika dihitung, paling mahal biaya satuan untuk serbuk gergaji adalah Rp.70.000/280 = Rp.250 /baglog.




2. Kapur

Kapur biasanya kami tambahkan dengan mencampurkannya ketika menimbun serbuk gergaji. Kebutuhannya sedikit. Per m3 serbuk gergaji hanya dibutuhkan sekitar 2,5kg an. Biayanya sekitar Rp.5000 /m3. Jika per m3 bisa menghasilkan 280 baglog, biaya kapur = Rp.18,-. Ditambah tenaga kerja maksimal Rp.20,-




3. Bekatul

Untuk nutrisi rata-rata, dibutuhkan 100gram per baglognya. Jika harga bekatul Rp.1800/kg, biaya per baglog adalah = Rp.180.




4. Tepung jagung.

Nutrisi ini bersifat optional. jika ditambahkan, maksimal 30gram per baglog. Jika harga tepung jagung Rp.4000/kg, biaya menjadi Rp.120 /baglog.




5. Bibit jamur F2.

Di sini biayanya sangat krusial. Tujuan kami memberikan posting pembuatan bibit F0 F1 F2 adalah agar rekan-rekan juga bisa membuat bibit sendiri. Jika dengan membeli, harga bibit F2 per botol rata-rata Rp.7000 untuk diinokulasikan ke sekitar 30 baglog. Jadi beban biayanya= Rp.233,- per baglog. Untuk merata-rata, kami naikkan di kisaran Rp.250,- per baglog. Jika mampu membuat sendiri, maka biayanya bisa dihemat hingga tinggal Rp.75,- per baglog.




6. Bahan-bahan tambahan

Seperti kalsium, gula, air. Karena penggunaannya sedikit. Langsung kami lumpsum kan aja di kisaran Rp.100 /baglog. Ini sudah biaya maksimal.



Sampai disini kita sudah mendapatkan dua sub biaya jika keterangan tadi ditotal:

Sub biaya bahan pendukung maksimal = Rp.275 /baglog

Sub biaya bahan utama = Rp. 970 /baglog

TOTAL = Rp. 1195 /baglog.

Beban biaya itu bisa diiritkan lagi menjadi sekitar Rp.900 /baglog jika bibit membuat sendiri dan tidak memakai tepung jagung dalam campuran baglog.




Nah, yang belum dimasukkan adalah biaya yang cukup krusial dan penting yaitu biaya sterilisasi dan biaya tenaga kerja. Untuk itu bersambung di posting selanjutnya.